Cara Menjual Buku dengan Trik Psikologis – Ada yang mengatakan, bahwa pemasaran atau marketing buku sudah mulai berkembang di Abad Pertengahan. Seperti halnya dengan ilmu lain, psikologi ternyata mempunyai peran dalam menjual atau promosi buku. Teknik psikologis ini mungkin cocok untuk kamu yang sedang ingin menerbitkan buku.

  • Buku Harus Sesuai Dengan Genre

Ini yang paling penting. Ini untuk memahami psikologi pembaca kamu agar tidak kecewa dengan bukumu. Ingat, setiap genre buku selalu mempunyai ciri khas yang unik. Perhatikan itu.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan bukumu, mulai dari judul, kovertata letak, jenis cetakan, harus disesuaikan dengan genre bukumu.

Sebagai contoh. Mari kita ambil misal genre bukumu adalah fiksi remaja. Tentu target pembacamu adalah generasi Z, atau millenial. Umurnya kisaran antara 15 sampai 25 tahun. Lha, pada usia 15-25 tahun, seseorang cenderung mempunyai watak yang energik, membara, nakal, muda bahkan pemberontak.

Jadi, tidak mungkin jika genre bukumu fiksi remaja, kemudian menggunakan kover bergambar yang kekanak-kanakan. Jika ingin bukumu laku, perhatikan genre bukumu, lalu setiap elemen bukumu harus disesuaikan dengan genre. Judul juga perlu diperhatikan di sini. Selain itu, biar bagian promosi penerbit tidak bingung. Hehe~

  • Judul harus mengandung stimulus

Dengan adanya stimulus dalam judul bukumu, maka bukumu akan memncing orang secara emosional untuk membaca. Misalnya, Perempuan Kaya atau Perempuan Salehah?.

Judul-judul yang mengandung stimulus ini akan menciptakan respon pada seseorang dan memancingnya untuk membaca. Dan setelah ia merasa tertarik membaca, maka ia akan berkeinginan untuk membelinya agar tahu bagaimana kamu membahas permasalahan yang dilematis: Kaya atau Salehah?

Demikian juga dalam pembuatan sampul buku. Kamu bisa membuat rangsangan visual yang menarik. Dalam kasus di atas, mungkin kover akan berisi: 1) sosok perempuan kaya-raya berikut dengan keseksian dan bergelimang harta; 2) sosok perempuan berkerudung berikut dengan simbol-simbol kesalehannya; dan 3) sosok lelaki di tengah yang ada di antara keduanya. Gambar atau ilustrasi kover yang seperti itu akan memicu rangsangan emosional. Apa lagi jika pilihan warna bukumu cocok.

Yakin, deh! Pasti bestseller!

Dasar pemikirannya adalah, bahwa bukumu harus bisa menjadi kebutuhan orang-orang dan bukumu bisa melengkapi rasa penasarannya.

  • Targetkan Alam Bawah Sadar

Ketika kamu mencoba meyakinkan seseorang untuk membeli bukumu menggunakan segudang argumentasi, maka itu akan sia-sia belaka. Hal itu karena kamu sedang berhadapan dengan pikiran sadar mereka.

Karena itu, kamu harus bisa membuka alam bawah sadar mereka. Caranya buat bukumu agar tidak sesuai ekspektasi atau harapan umum pembaca. Misalnya dalam kasus judul buku di atas, jika dalam lingkunganmu orang akan cenderung memilih Perempuan Solehah, buat bukumu agak berbeda. Misalkan si Pria karena tidak bisa memilih, akhirnya menikahi keduanya dan hidup bahagia.

Cerita fiksi remaja seperti itu akan membuatmu berhasil menarik alam bawah sadar mereka. Ini bisa kita contohkan misalnya dalam Perahu Kertas-nya Ibu Suri Dee Lestari, bagaimana cerita percintaan Keenan dan Kugy bisa memancing alam bawah sadar pembaca.

  • Memicu Neuron Cermin

Neuron cermin adalah bagian dari otak kita yang mencerminkan tingkah laku orang lain. Saat kita melihat orang lain melakukan sesuatu, neuron cermin berpendar seolah kita juga melakukan hal yang sama. Bagian otak itu memungkinkan pembaca bisa menangkap pikiran orang lain dalam tokoh melalui simulasi langsung. Dan karena itu, pembaca akan bisa merasa menjadi tokoh tersebut.

Cara ini sebenarnya banyak digunakan oleh pemasaran untuk memasarkan produk-produk pakai. Dalam kasus buku, memang agak susah. Namun jika berhasil, tentu akan sangat luar biasa hasilnya. Misalnya saja, Perahu Kertas. Seorang laki-laki remaja yang suka bereksperimen, berjiwa pemberontak terhadap ayahnya yang suka memaksa, seperti Keenan, mewakili banyak generasi muda. Pembaca pun penasaran dan seolah-olah mereka di situ berperan menjadi Keenan. Belum lagi tokoh lain.

Jadi, bukumu setidaknya harus bisa mewakili beberapa karakter yang sedang trendi. Misalnya saja dalam kasus buku di atas, ternyata Si Pria adalah seorang pendemo yang sangat ideologis, ateis, dan radikal. Lalu hadir dua perempuan: Si Kaya dan Si Salehah.

  • Jangan Ruwet

Jangan terlalu kompleks. Misalkan pada kasus tadi, Si Pria adalah seorang ideologis, ateis, dan radikal jangan ditambahi hal-hal yang lebih kompleks. Misalnya, Si Pria ternya masih saudara dari dua perempuan itu. Ini akan berpotensi merusak cerita.

Bukumu setidaknya memperikan pesan yang sederhana saja. Jika dalam kasus buku di atas, maka berikanlah pesan seperti kesalehan lebih penting daripada kekayaan. Pesan atau amanat buku harus bisa menarik pembaca dan memancing penasarannya untuk membeli. Jadi, usahakan untuk menghindari hal-hal yang membuat pembaca bukumu bingung. Berilah sesuatu yang menyenangkan.

Kasihan, sudah keluar uang untuk beli buku, eh, malah ditambahi disuruh memikirkan hal-hal yang berat. Saya yakin kamu bukan seorang dosen. Hehe~

  • Mudah diingat

Ingatan seseorang pada dasarnya berbeda-beda. Ada yang kuat, ada pula yang lemah. Namun ada dua tik psikologis untuk membantu pembaca mudah mengingat bukumu: pertama, hal-hal yang sering kita temui. Pengulangan adalah kuncinya; dan kedua, Hal-hal yang menggairahkan kita. Kebaruan dan keunikan sangat penting.

Untuk mempertahankan pembaca terus mengingatmu, ada konsekuensinya: Kamu harus terus menulis. Setiap buku baru yang kamu tulis akan membuat kamu lebih berkesan. Setiap pembaca yang ingat kamu adalah pembeli potensial. Ya, sesederhana itu.

Selain itu, mempromosikan bukumu baik daring maupun luring akan membantu pembaca mengingatmu. Apalagi di dunia yang dikenal sebagai negara berfollower. Semakin banyak pengikut, semakin potensial ia menjadi penulis. Karena apa? Ia bisa menjangkau lebih banyak pembaca (Tentang ini mengkin akan saya bahas lain kali).

  • Buat Citra yang Baik Buat Pembaca

Ini merupakan strategi psikologis menjual buku dalam poin retensi selektif. Retensi selektif adalah kecenderungan manusia untuk mengingat hal-hal baik.

Untuk menggunakan retensi selektif, sebagai penulis yang punya banyak pengikut, misalnya, secara tidak langsung kamu juga harus bertanggung jawab menciptakan citra baik pada pembaca. Fenomena ini sangat kentara di masa sekarang, di mana media sosial menjadi cerminan. Ibaratnya, setetes nila rusak susu sebelangga.

Demikian, cara menjual buku dengan Trik Psikologis. Trik ini mudah-mudahan bisa berguna. Tapi yang paling penting, bukankan kamu harus punya naskah dulu? Hehe~

Foto Featured: Fredie Mariage via Unplash

Maghfur Munif

Aku lahir di Gresik, nomaden, pecandu kopi, arbitrer seperti bahasa, suka catur, dan kerap menulis. Cita-citaku manunggaling kawulo teks. Bisa dihubungi lewat Twitter: @punkysme atau email: punkysme@gmail.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *