Pentingnya waktu untuk membaca bagi anak-anak, mudahnya, dikarenakan dua hal: pertama, membaca merupakan keterampilan akademis yang paling mendasar; kedua, manfaatnya yang luas, terutama terkait dengan beragam jenis pembelajaran lainnya.

Karena itu, waktu bagi anak-anak untuk ‘praktik’ membaca harus menjadi aspek pendidikan yang tidak dapat dinegosiasikan. Sehubungan dengan artikel sebelumnya, Pentingnya Keterampilan membaca, di mana ketika banyak anak-anak membaca kurang dari 15 menit setiap hari, maka setidaknya itu jelas menjadi tugas utama para guru, para pendidik dan keluarga.

Tentu saja, bukan karena para pendidik dan keluarga itu tidak memahami pentingnya membaca. Mereka memiliki niat baik untuk mengingatkan anak-anak meluangkan waktu membaca. Namun kadang-kadang mereka menganggap waktu itu sebagai “membaca biasa,” tidak memahami berapa banyak pembelajaran yang terjadi ketika anak-anak membaca.

Jadi, bukan hanya menyuruh membaca saja, tapi juga para pendidik dapat memberikan pengajaran dalam membaca, membuat tugas mengisi lembar kerja tentang apa yang mereka baca, dan kegiatan yang terkait dengannya, seperti menjelaskan ide utama, sampai pada titik di mana, anak-anak merasa ketika ada sedikit waktu, mereka langsung punya keinginan untuk membaca.

Daniel Willingham dalam tulisannya Can Reading Comprehension Be Taught? berpendapat bahwa banyak keterampilan yang diajarkan guru pada anak-anak terkait membaca adalah teknik dan strategi yang sederhana, cepat dan tergesa-gesa, dan dengan sedikit latihan. Melakukan strategi dan teknik membaca seperti itu akan memberikan sedikit peningkatan dalam hal membaca, lalu mereka akan bosan dan melupakan pentingnya membaca.

Memang, di kelas-kelas SD, beberapa kali aku amati, sudah banyak anak-anak yang membaca buku. Tapi ketika sudah di luar kelas, buku seakan mereka lupakan. Kembali lagi, Youtube lebih menyenangkan. Atau mungkin game. Meskipun tidak aku pungkiri, dalam Youtube dan game ada pembelajaran.

Jika kita kembali pada analogi permainan sepak bola, itu berarti sama saja pemain dalam tim sepak bola itu belajar dari video atau game. Dan hal itu akan sia-sia saja ketika tidak dipraktekkan dan tidak melakukan latihan. Di situlah kadang aku merasa prihatin.

Bagiku, mungkin ini adalah masalah keseimbangan. Guru membutuhkan keterampilan, standar, dan instruksi, tetapi kita seakan telah terlalu banyak mengoreksi hal-hal itu sampai-sampai anak-anak tidak terlibat dalam kegiatan membaca dan menulis yang sebenarnya. Dengan demikian, peran pendidik perlu memperbaiki sistem atau strategi dan kembali ke sesuatu yang lebih realistis.

Karena itu, pentingnya waktu untuk membaca terutama bagi anak-anak tidak bisa dinegosiasikan. Bukan untuk meningkatkan budaya baca, tetapi untuk anak itu sendiri. Jika kita membalikkannya dan menggunakan bacaan dan tulisan untuk menginformasikan keterampilan dan instruksi, seorang guru mungkin memperhatikan muridnya sering membuat kesalahan tata bahasa yang sama, misalnya, dan mengatasinya lebih langsung.

*Tulisan ini pertama kali dimuat di situs Bacatulis Online.

Maghfur Munif

Aku lahir di Gresik, nomaden, pecandu kopi, arbitrer seperti bahasa, suka catur, dan kerap menulis. Cita-citaku manunggaling kawulo teks. Bisa dihubungi lewat Twitter: @punkysme atau email: punkysme@gmail.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *