POD (Print on Demand) : Sebuah Pengantar – Belakangan ini Print on Demand populer digunakan oleh penerbit-penerbit, terutama penerbit indie. Sesuai namanya, POD, print sesuai permintaan(Catatan! lema print belum masuk KBBI V), sederhananya adalah cara mencetak buku berdasarkan permintaan. Dengan demikian, penerbit atau percetakan yang menggunakan POD tidak akan mencetak buku atau dokumen lainnya sampai mereka menerima pesanan.

Saking populernya, kata POD sekarang sudah mulai mengalami penyempitan makna menjadi semacam ‘mesin cetak’. Ia sudah bersanding dengan mesin fotokopi, mesin letterpress dan mesin offset, atau bahkan mungkin sablon. Dan beberapa orang mungkin mengira, bahwa ‘mesin POD’ mempunyai status lebih tinggi dari mesin fotokopi dan mempunyai status lebih rendah dari mesin Offset. Pernyataaan itu bisa iya dan bisa tidak. Tergantung apa mesin fotokopi dan apa mesin POD-nya.

Yang pasti, menurut saya, POD adalah industri cetak. Ia sama seperti industri offset, hanya metode, hasil (kualitas cetak) dan teknik mencetaknya saja yang berbeda. Untuk mengetahui perbedaan itu, simak ilustrasi di bawah ini.

Ilustrasi POD (Print on Demand) : Sebuah Pengantar

Si Kapit adalah seorang novelis, atau akademisi, atau mahasiswa. Si Kapit bersentuhan langsung dengan dunia tulis-menulis. Lalu Si Kapit menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menulis sebuah karya: hasil penelitian, novel, atau apapun yang sifatnya tulisan. Setelah jadi, Si Kapit mengirimkan karya itu ke penerbit, untuk kasus novelis; ke lembaga penelitian atau penerbit jurnal-jurnal, untuk kasus akademisi; ke tempat fotokopi, untuk kasus mahasiswa yang ingin mencetak skripsi yang mungkin juga beli (Ah, stop! fokus kembali bayangkan Anda seorang novelis saja).

Setelah editor menerima naskah Si Kapit, editor menyukainya karena temanya kiwari dan ada ilustrasinya. Editor  pergi ke percetakan. Lalu percetakan mengatakan tidak mampu mencetaknya, karena terlalu panjang, banyak ilustrasi dan jika dicetak sedikit akan sangat mahal. Editor berpikir: belum lagi masalah pemasaran, Si Kapit juga pengikut Twitternya cuman 0.2K, dan instagramnya terakhir unggah dua tahun lalu. Dan alasan-alasan lainnya. Pada intinya, Penerbit dan Percetakan tidak mampu menerbitkannya karena anggaran (baca: modal) terbatas.

“Naskah Anda adalah naskah yang menarik. Kami sangat ingin mempublikasikannya. Namun, Mohon Maaf, Si Kapit. Untuk sekarang kami masih belum bisa mempublikasikan karya Anda dikarenakan keterbatasan anggaran. Mungkin di lain kesempatan.”

Editor kecewa. Penerbit kecewa. Penulis kecewa. Dan mungkin, calon pembaca juga kecewa karena ia kehilangan hak untuk membaca buku-buku bagus.

Di siuasi yang seperti itulah, POD bisa menghilangkan semua kekecewaan itu. Dengan bantuan industri cetak POD, karya Si Kapit akan terbit dan ada di tangan pembaca. Pertama, Percetakan tidak perlu takut untuk biaya cetak cara tradisional; kedua, tidak perlu memikirkan kuantitas; ketiga, editor dan penerbit tidak usah memikirkan anggaran, bahkan ada kemungkinan tidak perlu memikirkan strategi pemasaran karena buang-buang duit; dan keempat, Si Kapit, yang karyanya terbit dan mendapat apresiasi, semangat menulisnya bertambah dan beberapa tahun kemudian menjadi penulis Bestseller Internasional. 

Fenomena itulah yang sekarang marak terjadi. Tentu saja, hal itu mempunyai dampak negatif dan positif. Dan sebagai industri, bukan mesin, POD juga mempunyai konsekuensi logis terhadap budaya, politik dan ekonomi.

Karena itulah, dunia percetakan buku bukan lagi hanya sekeder tentang file-cetak-jadi. Tapi lebih dari itu, ada keseruan uniknya.

Sumber Gambar FeaturedUnplash

Maghfur Munif

Aku lahir di Gresik, nomaden, pecandu kopi, arbitrer seperti bahasa, suka catur, dan kerap menulis. Cita-citaku manunggaling kawulo teks. Bisa dihubungi lewat Twitter: @punkysme atau email: punkysme@gmail.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *