Membuat Sampul Buku untuk Penulis – Ada penulis yang juga menjadi seniman, misalnya Sujiwo Tedjo, Gus Mus, Cak Nun, Dee Lestari, dsb. Ada juga yang tidak. Maksudnya, antara seniman dan penulis memang kadang tumpang tindah; ada yang mengatakan itu bakat, hasil kursus, dan banyak hal yang sering kali tumpang tindih. Beberapa orang masih menganggap Dee adalah seorang penyanyi dibanding penulis. Cak Nun malah lebih dikenal dengan maiyah dibanding penulis atau sastrawan.

Maksud saya mengatakan itu adalah, kalau bisa, memang penulis tidak hanya menulis. Akan lebih baik jika ia mempunyai ‘bakat’ di bidang seni yang lain. Karena ini akan berpengaruh pada bagaimana bentuk internal buku Anda. Terutama terkait kover, warna, ilustrasi dan tata letak. Ini mungkin berlawanan dengan pepatah jangan menilai (baca: beli) dari sampulnya. Pada kenyataannya, di zaman kiwari ini, sampul buku mempunyai nilai tersendiri sebagai daya tarik pembaca.

Kecuali, jika Anda memang mampu menulis dengan serius dan idealis seperti Pramoedya (dalam hal fiksi) atau seperti Pak Poerwadarminto (dalam hal nonfiksi). Beda cerita!

Kecuali, Anda adalah orang kaya yang bisa bayar desainer atau ilustrator khusus untuk buku Anda, seperti Buku Puisi panjangnya Si Anu (you know what I means), dan mungkin buku fenomenal lanjutannya yang tebal dan digarap bareng-bareng bernama tim tujuh belas.

Namun di luar itu, di sini saya akan memberikan beberapa pertimbangan dalam membuat desain sampul buku, ini bisa berlaku untuk buku cetak, maupun ebook. Namun yang lebih dipentingkan di sini adalah ebook, karena tidak usah keluar biaya cetak dan relatif bisa berwarna-warni.

Bijaksanalah Memilih Warna

Warna memiliki pengaruh besar dalam psikologi manusia. Rumusnya: pertama, sesuaikan dengan tema buku Anda. Misalnya buku Anda bertema percintaan, ya gunakan warna-warna yang romantis. Kedua, jangan yang berbenturan atau tidak cocok. Ketiga, yang paling penting, keterbacaan.

Karena itu, di awal saya menjelaskan bahwa penulis jika bisa tidak hanya menulis, tapi sedikit punya bakat memvisualisasikan ide tulisannya secara grafis.

Poin ini terutama jika buku Anda mempunyai target pembaca anak-anak atau remaja. Sedang untuk buku-buku ‘berat’, pertimbangan ini bisa lewat. Karena punya pasar tersendiri.

Pandailah Menggunakan Tipografi

Biar ringkas, secara garis besar, tipografi dalam layout buku secara garis besar ada 3 jenis: serif (berkait), sans-serif (nirkait), dan variasi. Huruf serif seperti Times New Roman, Baskerville, Garramod, dan sebagainya mempunyai kesan serius. Ada seorang teman saya, mengatakan bahwa serif (atau kait) dari huruf berfungsi untuk membantu orang cepat membaca dan mengesankan serius. Sementara sans-serif lebih mengesankan nonformal dan orang agak lambat membaca. Misalnya Arial, calibri, dsb. Tanpa penelitian tentang hal itu pun saya percaya. Lalu variasi, sifatnya bebas, seperti Comic, Freestyle Script, dsb.

Dalam hal ini, keterbacaan adalah yang penting. Kemudian diikuti oleh karakter atau tema tulisan Anda. Keduanya dipengaruhi oleh empat hal: Jenis huruf; Ukuran; Pengaturan, termasuk di dalamnya alur, spasi, kerning, perataan, dan sebagainya; dan Kontras warna terhadap latar belakang.

Jadi, jika buku Anda bertema serius dan formal, disarankan menggunakan font serif. Jika bertema santai, gunakan sans serif. Atau mungkin jika untuk anak-anak, gunakan variasi.

Jangan Sok Seniman!

Di atas sudah saya tekankan, jika memang Anda penulis-seniman, Anda akan bisa dengan mudah dan tepat mengilustrasikan atau memvisualisasikan tulisan Anda. Namun, jika Anda bukan penulis-seniman, tidak ada salahnya jika Anda merogoh kocek dan meminta tolong pada ahlinya.

Dan jika penerbit Anda berbaik hati sudah memutuskan satu desain sampul untuk buku Anda, berikan kisi-kisinya. Lalu ketika jadi, jangan rewel. Kerewelanmu akan berimbas pada psikologi desainer dan dengan demikian berimbas pada kualitas gambarnya.

Begitu juga dalam hal tata letak. Tipe Paragraf, gaya tulisan, spasi, penempatan illustrasi, penggunaan icon, dsb, serahkan pada layouter.

Buat Ruang Kosong dan Fokus

Sampul yang baik, menurut teman saya, dan saya sepakat, Sampul yang baik adalah sampul yang sederhana. Rumusnya, kata teman saya yang kadang saya tidak sepakat, semakin sederhana suatu desain, semakin bagus. Aura di sini maksud saya adalah fokus atau rasa dari bukumu. Ini harus bisa menjadi stimulus atau merangsang seseorang untuk penasaran.

Ceritakan buku, bukan Anda

Ini penting buat penulis pemula. Kasus cekcok antara desainer dan penulis di sini biasanya penulis, karena sudah merasa telah berjuang keras menyelesaikan karya, sampul harus menampakkan dirinya. Iya. Memang, usaha Anda menyelesaikan suatu buku bukanlah hal yang mudah, mungkin berdarah-darah. Namun, buku Anda bukanlah Anda. Karena itu, sampul buku harus lebih banyak bercerita buku daripada tentang diri Anda. Jangan sertakan foto diri Anda di sampul, dan jangan jadikan nama Anda baris teks terbesar.

Namun, pertimbangan ini boleh dilanggar oleh mereka yang sudah punya nama. Malah kadang penulis yang seperti itu enggan fotonya nongol di sampul.

Buku, Bukan Pasar

Penghargaan, ulasan, dan tagline adalah bagian penting dari pemasaran buku Anda. Namun tidak berarti itu harus ada di sampul buku Anda. Jika itu semua Anda masukkan dalam desai sampul, maka akan terlihat sangat ramai akan teks. Seperti pasar. Kembali seperti kata teman saya, semakin sederhana desain, semakin bagus.

Foto Berkualitas Tinggi dan Punya Sendiri

Ini sebenarnya opsi yang kurang disarankan, menggunakan foto sebagai desain sampul. Namun, jika memang foto itu sesuai dan menarik, apa salahnya? Jika Anda ingin sampul buku Anda adalah foto, atau yang berformat bitmaps, usahakan berkualitas tinggi. Kualitas tinggi maksudnya di sini adalah pikselnya. Biar tidak pecah.

Lalu usahakan foto itu adalah hasil foto jepretan Anda sendiri. Kalau punya orang, wajib bagi Anda untuk membeli lisensinya. Ini yang harus mulai dibudayakan. Beberapa pekan lalu, ada cerita seorang penulis dari Australia yang datang mengunjungi Gus Mus dan meminta izin lukisannya dicantumkan dalam tulisannya. Kasus tulisan Gus Mus yang mengatakan tidak etis menggunakan fotonya sebagai sampul dan tanpa izin sedikit bisa menjadi bahan perenungan kita bersama.

Jadi, Membuat Sampul Buku untuk Penulis setidaknya memperhatikan beberapa pertimbangan di atas. Adakalanya, seseorang akan menilai buku dari sampulnya.

Maghfur Munif

Aku lahir di Gresik, nomaden, pecandu kopi, arbitrer seperti bahasa, suka catur, dan kerap menulis. Cita-citaku manunggaling kawulo teks. Bisa dihubungi lewat Twitter: @punkysme atau email: punkysme@gmail.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *