Proses membuat tata letak buku sebenarnya gampang-gampang susah. Apalagi di masa kiwari, di mana teknologi sudah mumpuni untuk melakukan dan membuat apapu. Dikatakan mudah karena memang bisa dibuat mudah, yaitu hidupkan komputer, buka aplikasi, tata letak, konversi ke .pdf, dan selesai. Dikatakan susah, karena dari sudut pandang seni, terutama seni mendesain atau melayout, ada beberapa kriteria dan proses yang tidak gampang. Bahkan cenderung malesi. (Catatan: layout sementara ini belum masuk KBBI V, untuk memudahkan penjelasan di sini akan tetap digunakan kata melayout dan tidak ditulis miring untuk merujuk pada pengertian ‘melakukan proses tata letak’)

Karena mudahnya proses melayout di atas, orang-orang pun mempunyai pandangan bahwa belajar mendesain atau melayout adalah belajar komputer. Ada benarnya. Tapi tidak seutuhnya benar. Bahkan bisa sangat salah ketika kita menganggap satu-satunya cara belajar mendesain atau melayout adalah dengan belajar komputer.

Jelasnya, komputer atau perangkat lunak hanya alat untuk berkreasi, bukan esensinya. Memang komputer atau perangkat lunak memang diperlukan dalam melayout mendesain sampul, namun itu bukan utama, dan kadang alat itu baru berguna ketika memang diperlukan. Sebagai catatan pribadiku saja, buku-buku zaman arkais tetap bisa tertata rapi dengan keterbacaan tinggi walau tanpa teknologi.

Berikut ini, merupakan tahapan-tahapan melayout buku yang baik dan efektif-efisien. Tahapan ini aku ambil dari buku Layout, Dasar dan Penerapannya (Surianto Rustan, 2009). Sebagai bahan ajar melayout, buku itu sangat direkomendasikan.

Menurut Rustan (2009), ada lima tahapan pokok, dalam proses membuat layout, yaitu: Konsep Desain; Media dan Spesifikasinya; Thumbnails dan Dummy; Komputer; dan Cetak.

Pada tulisan ini, akan aku ambil empat proses awal, karena proses percetakan menurutku adalah proses di luar melayout.

KONSEP DESAIN

Inti dari melayout, atau mendesain, adalah konsep desain. Inilah akar dari proses layout. Proses-proses selanjutnya harus mengikuti ini. Dalam konsep desain, menurut Rustan (2009: 10) ada lima pertanyaan yang harus dijawab untuk bisa mendapatkan layout yang baik, yaitu:

  1. Apa tujuan desain tersebut?
  2. Siapa target audience-nya?
  3. Apa pesan yang ingin disampaikan kepada target audience?
  4. Bagaimana cara menyampaikan pesan tersebut?
  5. Di mana, di media apa dan kapan desain itu akan dilihat oleh target audience?

Saranku, ketika kelima pertanyaan itu belum terjawab, jangan melayout atau mendesain. Karena lima pertanyaan itu dasar dan panduan kamu untuk melayout. Bahkan, di perusahaan-perusahaan jasa desain yang besar, desainer atau layouter biasanya akan mendapatkan brief (atau uraian singkat, atau pakem) tertulis jelas dan detil. Brief itulah yang nantinya akan menjadi kitab suci desainer untuk mengerjakan layoutan-nya (maafkan kesalahan bahasaku).

Rustan (2009:11) memberikan contoh Creative Brief sebagai berikut:

Sementara brief untuk desain grafis (baik layout maupun sampul) dari Doha Innovation yang lengkap bisa seperti ini:

creative brief template graphic design Lovely Advertising Creative Brief Template Beautiful the Best Creative

Jadi kerja layout yang benar, menurutku, adalah berdasar atau berakar pada konsep desain. Hasil dari konsep desain tersebut adalah brief. Dan berdasar pada Rustan (2009) dan pengalamanku melayout buku, semakin lengkap dan jelas dari konsep desain atau layout, maka semakin cepat selesai.

MEDIA DAN SPESIFIKASINYA

Setelah konsep layout dan desain jadi, proses membuat tata letak buku selanjutnya adalah menentukan media dan spesifikasi medianya. Surianto Rustan (2009: 12) memberikan 5 opsi terkait proses ini, yaitu:

  1. Media apa yang paling cocok, misalnya flier, brosur tiga lipatan, spanduk, plasma screen, balon udara, dll.
  2. Bahan. Misalnya kertas fancy, kertas daur ulang, kain, dll. Dalam situasi tertentu, bahan bisa ditentukan di tahap sebelum produksi/pencetakan.
  3. Ukuran. Misalnya A4, A3, 160x60cm untuk x-banner, dll.
  4. Posisi. Misalnya A4 tegak (vertikal/portrait) atau mendatar (horisontal/landscape).
  5. Kapan, berapa lama dan di mana saja karya desain tersebut akan didistribusikan/diperlihatkan kepada target audience.

Dalam hal melayout buku, jawaban untuk nomer satu pilihannya ada dua: media daring maupun luring. Untuk nomer 2-5 mengikuti jawaban yang pertama. Masing-masing media mempunyai kelemahan dan kelebihan. Misalnya saja, di media luring, mempunyai kekurangan dalam keterbatasan warna, karena semakin banyak warna semakin besar ongkos produksi. Sebaliknya di media daring, mempunyai kelebihan pemilihan warna yang bebas karena ongkos produksinya sama saja.

Proses ini juga sama penting dengan proses konsep desain. Ada beberapa desainer atau layouter yang memasukkan proses pemilihan media dan spesifikasinya ini pada konsep desain, namun ada juga yang memisahkan. Sependek pengalamanku di industri buku, saranku mending disatukan. Biarkan editor yang menetukan agar tidak ribet.

THUMBNAILS DAN DUMMY

Setelah konsep desain selesai berikut penentuan media dan spesifikasinya, layouter atau desainer akan bekerja dengan membuat thumnails atau preview. Rustan (2009: 13) menjelaskan bahwa thumbnails adalah sketsa layout dalam bentuk mini. Ada baiknya dalam membuat thumbnails kamu tidak langsung menggunakan komputer, tetapi cukup dengan pensil dan kertas dulu. Thumbnails berguna tidak hanya untuk memperkirakan letak elemen-elemen layout pada suatu halaman tunggal seperti pada flier, namun termasuk juga urutan dan pengaturan halaman untuk suatu karya desain publikasi yang lebih kompleks, contohnya buku atau majalah.

Thumbnails atau preview itu diwujudkan dalam bentuk dummy (mohon, anak kuanti jangan langsung mikir statistik ya). Dummy itu sampel singkat sebelum desain dan sebelum cetak. Pentingnya dummy ini dijelaskan Rustan sebagai berikut: Kita sering menemukan kesalahan-kesalahan cetak pada suatu karya desain, misalnya: nomor halaman yang urutannya salah, huruf yang terlalu kecil dan sulit dibaca, kelebihan halaman yang tidak terpakai, arah lipatan brosur yang membingungkan, tempat sisipan yang tidak muat dimasuki brosur, tempat sisipan kartu nama yang kelebaran, dan sebagainya. Lalu kesalahan-kesalahan kecil itu dapat mengakibatkan kerugian besar baik di pihak klien maupun desainer apabila sudah terlanjur dicetak. Ini sunggguh sangat sering terjadi. Aku sudah berkali-kali menjadi korban lupa-buat-dummy.

Mudahnya, dummy adalah contoh jadi suatu desain nantinya. Untuk sebuah buku, kamu dapat membuat dummy buku itu tanpa isi tulisan di dalamnya, hanya lembaran kertas sebanyak halaman buku tersebut. Dari situ akan kelihatan setebal apa kira-kira buku itu nantinya, bagaimana bentuk buku itu kalau sudah jadi, apakah perlu disesuaikan lagi urutan isi dan halamannya, dll. Untuk mengetahui apakah tulisan pada buku itu cukup nyaman dibaca, mungkin anda perlu mem-print sebagian halamannya.

Rustan (2009: 14) menekankan bahwa thumbnails merupakan panduan desain, dummy/mock-up berguna untuk look & feel-nya dan untuk mengantisipasi kesalahan. Keduanya dibuat sebelum anda melakukan eksekusi desain di komputer.

DESKTOP PUBLISHING

Di titik ini, proses membuat tata letak buku bagi layouter atau desainer membutuhkan alat atau bantuan komputer dan perangkat lunak. Karena di proses inilah yang mulai membuat mastering dan proses inilah eksekusi layout dan desain dikerjakan. Sependek pengalamanku melayout atau mendesain, ada satu rumus penting: semakin baik spek kualitas komputer dan kualitas perangkat lunak, maka semakin cepat layout dan desain selesai.

Perkembangan dunia perangkat lunak untuk desain atau layout sekarang sudah sangat maju. Aku sendiri menganga dengan kemajuannya. Lihat saja, sekarang Office saja sudah versi 2020; Corel juga sudah 2020; Adobe juga sudah CC 2020; dan banyak lagi. Aku saja masih menggunakan Corel X5, Adobe juga masih CS3, dan Office 2010. Ini juga perlu dipertimbangkan, dunia penerbitan dan dunia percetakan wajib dan harus mengikuti perkembangan dunia perangkat lunak desain ini. Karena file di aplikasi yang sama, namun di versi berbeda, biasanya tidak terbaca.

Namun perihal perangkat lunak, Rustan (2009: 16) menjelaskan bahwa satu perangkat lunak dengan perangkat lunak lainnya tidak diperuntukkan untuk tujuan dan fungsi yang sama. Misalnya Photoshop paling cocok untuk pekerjaan mengedit image yang berbasis bitmap, sebenarnya tidak didedikasikan untuk meng-create image apalagi untuk membuat buku atau majalah (bahasa mudahnya mungkin vektor). Untuk mebuat gambar vektor, lebih mudah menggunakan program berbasis vektor seperti FreeHand, Illustrator dan CorelDraw! Program-program itu cocok untuk membuat karya desain seperti logo, flier, brosur, dll. Sedangkan InDesign dan PageMaker fungsinya sebagai publishing software, cocok untuk membuat karya desain dengan banyak halaman, seperti buku, majalah, newsletter dan koran.

Lebih lanjut, Rustan (2009) menambahkan bahwa dengan mengetahui dan banyak mempraktekkan software yang diperuntukkan untuk pekerjaan yang akan kita lakukan tentunya akan sangat memperlancar prosesnya, karena untuk suatu pembuatan majalah dengan banyak foto misalnya, kita tidak dapat hanya menggantungkan semuanya pada InDesign saja. InDesign memang diperuntukkan sebagai desktop publishing (untuk me-layout halaman-halaman media publikasi), namun tidak untuk mengedit foto yang akan di-layout. Artinya untuk sebuah pekerjaan desain, ada kemungkinan kita perlu menggunakan 3 atau 4 software yang berbeda.

Apabila tahap mendesain di komputer telah selesai dan telah dicek ulang untuk mengantisipasi adanya kesalahan-kesalahan desain, mulailah desainer mempersiapkan file tersebut untuk dicetak. Beberapa aktivitas harus dilakukan, seperti meng-convert warna menjadi cmyk (cyan, magenta, yellow, black) apabila akan dicetak offset, mengumpulkan font yang akan dipakai oleh percetakan, memberi beberapa penanda pada desain untuk memberi tahu percetakan bagian mana pada desain yang harus dipotong atau dilipat nantinya. Terakhir adalah mem-burn file-file yang sudah siap cetak tersebut ke CD dengan diberi keterangan secukupnya, barulah menghubungi percetakan (Rustan, 2009).

Setelah mastering atau eksekusi desain selesai, maka tahap selanjutnya adalah Cetak. Dalam tahap Cetak, terkait dengan buku, seperti yang sudah aku sebutkan di atas, medianya bisa luring atau daring. Jika media yang ditentukan adalah daring, maka mungkin tahap cetak ini berubah menjadi tahap konversi, bisa dari format .indd ke .pdf atau .pdt atau sebagainya tergantung publisher. Sementara jika medianya adalah luring, maka tahap cetak ini menjadi tahap percetakan, bisa POD atau Offset. Untuk proses percetakan maupun konversi punya dunia sendiri, mungkin lain waktu aku akan menuliskannya.

Demikian penjelasan singkatku mengenai proses membuat tata letak buku berdasarkan buku Layout, Desain dan Penerapannya dari Surianto Rustan (2009) dan dengan sedikit tambahan dari pengalamanku. Semoga bermanfaat.

Maghfur Munif

Aku lahir di Gresik, nomaden, pecandu kopi, arbitrer seperti bahasa, suka catur, dan kerap menulis. Cita-citaku manunggaling kawulo teks. Bisa dihubungi lewat Twitter: @punkysme atau email: punkysme@gmail.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *