Naskah Sandhyakala Ning Majapahit merupakan naskah drama yang ditulis oleh Sanoesi Pane. Lakon ini pertama kali dimuat dalam majalah bulanan Timboel, Tahun VII nomor-nomor gabung 1 dan 2, 3 dan 4, serta 5/6 tahun 1932. Lakon ini ditulis ulang dari terbitan Pustaka Jaya cetakan ketiga, 2017.

Para Tokoh

Berikut para pelaku atau tokoh dalam lakon ini:

  1. Batara Wisnu
  2. Kamawijaya (Dewa Cinta)
  3. Dewi Ratih (PermaisuriKamawijaya)
  4. Dewi Suhita (Prabu Majapahit)
  5. Damar Wulan (Kesatria, disebut juga Raden Gajah, kudian senapati, akhirnya Ratu Angabaya)
  6. Maharesi Paluh Amba (Nenek Damar Wulan)
  7. Nawangsasi (Ibu Damar Wulan)
  8. Logender (Patih)
  9. Anjasmara (Anak Patih Amangkubumi L0gender, yang kemudian menjadi istri Damar Wulan)
  10. Layang Setra (Anak Patih Amangkubumi Logender)
  11. Layang Kumitir (Anak Patih Amangkubumi Logender)
  12. Adipati Matahun
  13. Adipati Daha
  14. Adipati Kahuripan (Kudian Sri Pramesywara )
  15. Adipati yang lain-lain
  16. Menak Koncar (Kesatria, kudian senapati)
  17. Darmajaksa Ring Kasyaiwan (Kepala agama Syiwa)
  18. Darmajaksa Ring Kasogatan (Kepala agama Buddha)
  19. Parawerdamenteri
  20. Paraaria
  21. Parapasangguhan
  22. Rakrian Demung
  23. Rakrian Rangga
  24. Rakrian Tumenggung
  25. Penggawa yang lain-lain
  26. Panewu-panewu
  27. Utusan-utusan Saksi-saksi
  28. Abdi Dalam
  29. Bayangkara
  30. Sabda Palon
  31. Naya Genggong

***

Naskah Sandhyakala Ning Majapahit terjadi di Paluh Amba, Kepatihan, dan Bangsal Witana, kira-kira Saka 1350.

Sandhyakala Ning Majapahit: Kata Bermula

(Diucapkan oleh seorang berpakaian biksu Budha, kuning tua. Di kiri kanan dan bagian belakang mimbar berdiri perdupaan yang besar. Dari dalamnya keluar asap kemenyan)

Om! Turunkan rahmat Paduka, O, Syiwabudha, yang bersemayam di hati dunia dan di hati segala yang ada dan buat lakon ini berjalan dengan selamat, karena persembahan seorang pujangga kepada bangsanya, yang berjuang untuk kemerdekaan dan kemuliaan.

Lakon ini berdasarkan berita dalam Serat Kanda, Datnar Wu-lan, Pararaton dan Nagarakertagama, dipetik dan disatukan sang pujangga jadi hikayat untuk cermin perbandingan bagi turunan sekarang.

Damar Wulan seorang kesatria yang mengalahkan Menak Jingga, musuh Majapahit.

Menurut Pararaton pahlawan yang gagah berani ini dihukum mati oleh kerajaan.

Setelah zaman Damar Wulan, turunlah derajat Majapahit dan akhirnya dimusnahkan oleh balatentara Islam, sehingga mulailah lakon yang baru.

Dengar dan lihatlah, ya Tuan, turunan yang sekarang, bagaima-na sang pujangga menghidupkan waktu yang silam kembali pada kaki singgasana Ibu dan Ratu.

Pujangga merasa dirinya kurang tenaga, karena itu mengharap diganti oleh darah muda.

Pekerjaannya hanya percobaan saja, menanti kedatangan yang lebih tinggi martabat budinya.

Lakon ini mengandung pengharapan, supaya pujangga boleh berhenti karena diganti tenaga baru.

Kamulah, pemuda, harapan bangsa, kami yang tua sudah berdaya.

Jikalau kamu telah membaca atau melihat lakon ini, timbulkan maksud dalam hatimu mengarang lakon yang lebih indah.

Pujangga mencoba kepada Dewata, supaya tuan diberi tenaga.

Berikut Isi Naskah Lakon Naskah Sandhyakala Ning Majapahit

  1. Bagian Pertama
  2. Bagian Kedua
  3. Bagian Ketiga
  4. Bagian Keempat
  5. Catatan kritis: Naskah Sandhyakala Ning Majapahi

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *