Naskah Sandhyakala Ning Majapahit: Bagian Pertama – Naskah Sandhyakala Ning Majapahit merupakan naskah drama yang ditulis oleh Sanoesi Pane. Lakon ini pertama kali dimuat dalam majalah bulanan Timboel, Tahun VII nomor-nomor gabung 1 dan 2, 3 dan 4, serta 5/6 tahun 1932. Lakon ini ditulis ulang dari terbitan Pustaka Jaya cetakan ketiga, 2017. Bagian ini akan menuliskan Naskah Sandhyakala Ning Majapahit: Bagian Pertama. Sementara Tokoh dan Penokohan naskah ini ada di tulisan sebelumnya.

Naskah Sandhyakala Ning Majapahit: Bagian Pertama

Di muka asrama Maharesi Paluh Amba Maharesi duduk di atas batu yang datar dan Damar Wulan bersila di mukanya. Di luar kedengaran suara genta kerbau dan seorang anak gembala bernyanyi:

Indah rupa langit nilakandi

Disinari oleh Dewa Surya

Tertawa puspa di lereng

Gemilang puncak gunung

Mayapada indah sekali

Laksana Suryalaya

Tanah mulya sungguh

Jawa serta Nusantara

Jiwa sukma jantung Batari Pertiwi

Kekasih Sang Dewata.

MAHARESI PALUH AMBA

Ketahuilah, Damar Wulan, bahwa oleh syakti Brahma terjadilah dunia ini.

DAMAR WULAN

Nenekanda, apakah gunanya Brahma menjadikan dunia ini?

MAHARESI

Pertanyaan ini tidak terjawab oleh manusia, yang picik pikirannya itu.

DAMAR WULAN

Sebelum Brahma menjelma, apakah yang ada, Nenekanda Maharesi?

MAHARESI

Hanya Brahma, Damar Wulan.

DAMAR WULAN

Siapakah yang menjadikan Brahma?

MAHARESI

Ia terjadi oleh kekuatan dirinya sendiri.

DAMAR WULAN

Perkataan ini tidak bisa kuketahui akan artinya.

Brahma terjadi oleh kekuatan dirinya sendiri dan ia menjadi tiga. Yang tiga inilah azas dunia.

Bumi ini didiami manusia. Manusia mati dan pergi ke Wisnuloka, ke Syiwapada atau ke Inderaloka atau ke Yamaloka.

Keadaan ini seperti sunglap pada pemandangan saya.

MAHARESI

Apakah sebenarnya yang hendak engkau ketahui?

DAMAR WULAN

Bagaimana timbul dunia ini. Apa sebabnya.Apa guna manusia hidup. Mengapa ia harus mati. Itulah, ya Nenekanda soal yang ter-penting yang mengganggu pikiran saya.

Jikalau saya pada malam hari memandang ke atas, melihat bintang beribu-ribu, saya bertanya dalam hati saya: adakah watas dunia ini? Jikalau ada watasnya, apakah yang ada di baliknya itu? Dan jika tidak ada, bagaimanakah, ya, bagaimanakah bentuk alam ini?

Kerajaan timbul dan runtuh, makhluk bunuh-membunuh, datang dan pergi. Tidak ada yang tetap dalam kehidupan ini.

Dan saya memikirkan arti baik dan buruk. Apakah yang dise-but baik dan disebut buruk? Siapa atau apakah yang memberi tim-bangannya? Pikiran manusia tidak keruan dalam hal ini.

Orang menyembah dewa-dewa akan tetapi tidak seorang yang pernah melihat mereka.

Aku ingin mengetahui dan melihat dengan terang. Tidak senang hati saya membaca dan mendengar pennainan pikiran saya.

MAHARESI

Damar Wulan, ingatlah, bahwa kewajiban kita yang utama ialah menyembah Dewa dan yang kedua memperhatikan isi buku-buku suci dengan pimpinan guru.

Aku melihat engkau jadi kesatria dan karena itu tidaklah patut bagimu dalam mempelajari agama.

Dan ketahuilah, bahwa soal kejadian dan tujuan kehidupan tidak bisa diketahui manusia dengan sempurna. Yang dapat dan patut kita ketahui, sudah tertulis dalam buku-buku nenek moyang kita.

DAMAR WULAN

Sebelum soal-soal yang mengganggu pikiran saya terjawab oleh saya, tidaklah hati saya akan damai dan berbahagia.

Siang dan malam soal-soal itu di dalam dan sekeliling saya seperti hantu yang menyiksa saya, sehingga saya sering kali waktu malam meninggalkan tempat tidur saya dan mengembara seorang diri di lereng gunung dan lembah, padang dan hutan seakan-akan orang yang dikejar musuh, berputus asa, merasa maut, keadaan yang kosong, menutupi jiwanya.

Bahuku seperti mengangkat beban, yang dikumpulkan oleh beratus-ratus zaman. Aku tidak tahu apa gunanya aku hidup, Nenekanda Maharesi, karena tidak ada pada pemandanganku yang tetap, yang bisa ku-pegang, yang bisa kutuju. Aku serasa sebatang kara di dalam dunia, seorang pengem-bara di padang yang tidak berwatas, yang diliputi awan kelabu.

Damar Wulan termenung dan juga Maharesi berdiam diri sejurus lamanya. Setelah itu ia berkata.

MAHARESI

Sudah terlalu lama engkau tinggal di tempat yang sunyi ini dan karena itu patutlah engkau ke kota yang ramai. Ibumu dan saya sudah sepakat engkau mengunjungi pamanmu, patih di Majapa-hit. Dan Iagi waktu sekarang kejayaan dalam kesusahan, karena Menak Jingga, Adipati Wirabumi, mendurhaka kepada ratturya, ti-dak suka membayar upeti dan merampas jajahan yang bukan hak miliknya. Tidak layak bagimu seperti seorang kesatria, seorang turunan keluarga yang senantiasa bekerja untuk Majapahit, ting-gal di sini berdiam diri pada zaman yang seperti ini. Karena itu pergilah engkau ke ibukota melakukan kewajibanmu seperti kesa-tria, seperti turunan patih. Pengetahuanmu tentang kekesatriaan sudah cukup dan tidak kurang dari kepandaian segala anak bang-sawan di Majapahit.

DAMAR WULAN

Apakah, Nenekanda Maharesi, gunanya saya pergi ke Majapa-hit, buat saya, buat negeri dan buat kehidupan? Apakah gunanya kejayaan Majapahit terjadi di muka bumi? Biar Adipati Wirabumi menghancurkan Jawadwipa, apa bedanya bagi saya.

MAHARESI

Dengar Damar Wulan! Engkau dijadikan Dewata kesatria dan karena itu engkau harus bersifat kesatria.

DAMAR WULAN

Saya ingin tahu mengapa saya jadi kesatria dan bukan misalnya gembala domba.

MAHARESI

Engkau kesatria sekarang dan apa gunanya Iagi tanya-tanya?

DAMAR WULAN

Saya tidak mengerti…

MAHARESI

Pikiran itu amat berguna, tetapi tidak segala soal, Cucunda, bisa kita jelaskan.

Nawangsasi ibu Damar Wulan, masuk, diikut oleh perempuan, y.g membawa buah-buahan.

Si Damar Wulan ini, anakku Nawangsasi, tidak mengerti me-ngapa ia sebaiknya pergi ke Majapahit. Coba terangkan kepadan-ya apa sebenarnya kewajiban kesatria.

Nawangsasi duduk, perempuan itu terus masuk ke dalam asrama.

NAWANGSASI

Sudah lama kami, Wulan, melihat pikiranmu tidak keruan. Engkau senantiasa seperti berdukacita, berputus asa. Karena itu pada pikiran kami lebih baik engkau pergi ke Majapahit, supaya bergaul dengan anak bangsawan.

Dan lagi, Anakda, negeri sekarang perlu akan kesatria, karena Adipati Wirabtuni mendurhaka kepada Prabu. Aku suka melihat anakku jadi pahlawan, tennasyhur ke mana-Maria. Sungguh aku akan menderita kalau bercerai dengan engkau, tetapi kejayaan lebih penting dari hati seorang ibu.

DAMAR WULAN

Bunda, saya pergi ke Majapahit karena bunda suka begitu, bu-kan lah sebab ingin jadi pahlawan, jadi termasyhur seluruh dunia.

NAWANGSASI

Engkau harus di Majapahit menjaga nama kita semua. Wajib-lah lakumu senantiasa baik, berpadanan dengan daralunu. Baik-baik mencari kawan, jangan engkau ditipu orang.

Harus setia kepada ratu dan cinta kepada negeri.

Dan, anakda, ingatlah bunda kadang-kadang, jangan lupa akan nenekmu.

O, Wulan, bunda ingin engkau di sini, tetapi negeri memanggil kamu.

Nawangsasi menangis.

MAHARESI

(Berdin)

Sudah putus engkau pergi, Damar Wulan, ke Majapahit. Baiklah lusa engkau berangkat, apalagi yang dinanti-nanti.

DAMAR WULAN

Saya menurut perintah Nenekda.

Maharesi meninggalkan mimbar.

NAWANGSASI

Janganlah ingat air mata ibumu, yang lupa sebentar akan ke-wajibarunu.

Ia berdiri dan masuk ke dalam asrama. Damar Wulan termenung, tiada bergerak. Padamlah lampu di atas mimbar dan dalam kegelapan ter-dengar suara Damar Wulan.

DAMAR WULAN

Dewata, jikalau Paduka sungguh ada, limpahkanlah damai ke dalam hatiku.

Aku seperti pengembara, kakiku luka, badanku remuk.

Penderitaan manusia seperti berkumpul dalam hatiku.

Dewata, Dewata!

Jiwaku mati dalam tubuhku, aku tak dapat merasa lagi. Inikah Jalan ke Nirwana atau Jalan ke keedanan?

Wisnu, o, Wisnu! Dengar ratap tangis jiwaku. Bersama daku berkeluh-kesah kemanusiaan.

Wisnu, o, Wisnu!

Sebentar sunyi senyap, kemudian kedengaran lagi suara Damar Wu-lan pentth kesedihan:

Sunyi ya, tutup jiwaku dengan kainmu yang hitam itu dan bawa daku ke dalam ketiadaan, malalui lautan kelupaan.

Gamelan berbunyi. Lampu bernyala kembali dan Dantar Wulan kelihatan menghadap Batara Wisnu. Setelah gamelan diam, berkatalah Batara Wisnu.

WISNU

Akulah Wisnu, yang engkau cari. Aku bertakhta dalam hatimu, baru sekarang engkau lihat. Ber-tanyalah engkau kepadaku, kepada kehidupan sendiri.

DAMAR WULAN

Batara yang mulia raya, terangkan kiranya kepada sangulun; bagaimanakah terjadi dunia ini dan apakah gunanya kehidupan?

WISNU

Dunia ini tidak pernah terjadi, karena tidak pernah tidak ada. Dunia ini senantiasa di sini dan tidak akan pernah menjadi musnah.

Lihat matahari, Damar Wulan! Manusia membilang, bahwa ia bulat dan panas. Tetapi ini angan-angan belaka.

Nama matahari itu pendapatan manusia dan begitu juga sifat bulat dan panas. Matahari bukan matahari dan bukan bulat dan panas, akan tetapi bukan demikian pula.

Mengertikah engkau, Damar Wulan?

DAMAR WULAN

Tidak, Batara.

WISNU

Dengar, Damar Wulan! Misalkan manusia belum ada di bumi ini. Segala yang ada di dunia ini tidak bernama dan tidak bersifat, cuma ada dalam dirinya sendiri. Dapatkah engkau pikirkan itu, Damar Wulan?

DAMAR WULAN

Dengan susah payah, Batara, karena pikiranku sukar melupak-an nama-nama dan sifat-sifat.

WISNU

Manusia datang ke dunia itu dan karena bercampur gaul per-lulah mereka akan tanda yang menyebut maksudnya. Tanda ini diterangkannya dengan suara, yaitu kata. Dengan demikian se-gala barang yang dilihatnya diberinya nama. Makin lama makin dibeda-bedakannya benda-benda, diberinya sifat dan dicarinya tempat dalam kumpulan tubuh-tubuh. Terjadilah kepercayaan ini bertambah luas dan dalam karena pengalaman manusia bertam-bah banyak.

Siapa yang hendak mengenal kehidupan, harus melupakan nama-nama dan sifat-sifat itu.

Damar Wulan, segala benda ada dalam dirinya sendiri, tidak dikenal dengan pikiran, yang berdasarkan bahasa.

Dunia tidak bisa dibilang ada dan tidak bisa dibilang tidak ada. Dunia ialah Dunia. Perkataan ini tidak benar juga, sebab du-nia sebenarnya bukan dunia dan bukan pula bukan dunia.

Segala pertanyaanmu dasamya salah, karena berakar dalam pikiran, yang dibentuk oleh nama dan sifat.

Kehidupan tidak berawal dan tidak berakhir dan bukan pula demikian, karena tidak bersifat dan tidak tidak-bersifat.

Buruk dan baik tidak ada dan tidak tidak-ada dan demikian juga dengan segala sifat yang berlawanan.

DAMAR WULAN

Rahasia kematian, Batara Wisnu, senantiasa mengganggu pi-kiran sangulun.

WISNU

Ketahuilah, Damar Wulan, bahwa waktu cuma maya, cuma perbandingan yang dibuat oleh manusia antara kejadian dengan kejadian yang lain.

Manusia melihat bunga tumbuh dan kembang dan antara kedua kejadian ini disebutnya waktu.

Sebenamya bunga itu bukan bunga, bukan tumbuh dan bukan kembang, senantiasa begitu juga, karena tidak bernama, tidak bersifat.

Dunia diam semata, tidak bergerak dan waktu tidak mungkin bisa sejati.

Mati artinya buat manusia pergi dari kejadian yang satu kepada kejadian yang lain, dari saat yang satu ke saat yang lain.

Ini hanya mimpi, Damar Wulan. Engkau ada dan tidak ada selama-lamanya.

DAMAR WULAN

Berwataskah dunia ini, Dewa yang mulia raya?

WISNU

Keluasan terjadi dari perbandingan yang dibikin oleh manusia antara barang-barang, yang sebenamya harus dipandang dari hatinya sendiri.

Aku duduk dalam hati tiap benda Damar Wulan, dan karena itu tidak ada keluasan bagi diriku.

Dunia tidak bersifat dan tidak tidak-bersifat, karena itu tidak berkeluasan dan tidak tidak-berkeluasan, tidak berwatas dan tidak tidak-berwatas.

Pertanyaanmu tidak akan berakhir, kalau engkau tidak meninggalkan dunia nama dan sifat yang dibentuk oleh pikiranmu sendiri dan yang engkau sangka kehidupan sejati.

Hentikanlah berfikir, hancurkanlah dunia maya dan satukan-lah dirimu dengan jiwa segala benda.

Yoga, o Damar Wulan, yaitu jalan manusia ke hatinya sendiri.

Jalan ini melalui kesunyian. Jiwa yang berdiri atasnya merasa seperti dunia runtuh dan ia hancur musnah. Sebenarnya putus perhubungannya dengan dunia nama dan sifat.

Jalan ini tadi engkau lalui dan dengan demikian engkau meli-hat daku.

O, Damar Wulan, janganlah cari kedamaian jiwa dalam dunia bayang-bayang.

Nirwana dalam hatimu sendiri.

Insyaflah kamu, bahwa engkau ialahfr daku, Batara Wisnu.

Dari luar kedengaran Sabda Palon berteriak.

SABDA PALON

Naya, kambing keparat, kita lupa memberi tahu!

Lampu padam dan setelah bernyala kembali, kelihatanlah Damar Wulan sedang samadi. la membuka matanya dan memandang ke hada-pannya, seperti orang yang terkejut.

Sabda Palon dan Naya Genggong masuk membawa kayu api, seorang seberkas, diletakkannya.

NAYA GENGGONG

Mengapa, Raden, Tuan seperti baru melihat hantu momok!

DAMAR WULAN

(tertnenung)

Aku baru melihat Batara Wisnu.

SABDA PALON

Ambil air semangkuk, Naya, tuan kita sakit panas!

***

Demikian Naskah Sandhyakala Ning Majapahit: Bagian Pertama. Silahkan melanjutkan membaca di Naskah Sandhyakala Ning Majapahit: Bagian Kedua.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *