Dewasa

sagala telah dewasa
jalan yang berkelok
tak dilewatinya. lurus-lurus
menghunus ikatan

sagala pergi ke seberang
mengepul uang buat kawinan
begitu mesra kesibukan
mengencani, menjadi ruh nan labuh.

sagala pulang ke halaman asmara
menilik kisah-kisah mati
sahabat, kini jadi asing. siapa
bersalah? aku atau fase…

aku tak mengenalmu, kita
tak saling sulang pada masa itu
perjalanan cadik tatkala matahari tua
malam meniduri senja, lahir bintang.

sagala hilang, segara temu
jasad di balik kapal karam
bersama mimpi berserak di geladak
menjadi rahim bagi karang-karang baru

Temanggung, 21-02-2020

Kutukan

kukutuk engkau menjadi batu
menjadi malin selanjutnya yang
khianat sahabat
jika foto-foto yang menjauhkan. kita
yang kini tinggal kata
tanggal-tanggal pada
pusar dedaunan yang jatuh
menemu tanah-tanah
yang memanjang
mendadak, menjadi bukit
tabur bebunga.

aku mati?

Temanggung, 21-02-2020

Sinom

langit berwarna tiga
: biru, hijau, putih
bebunga sekalipun indah
tak beranak pinak
lalat hala surganya
ingkung[1] di atas meja tanpa sekat
kursi-kursi plastik tergelar
membelah lengang
lalu gending jawa, menggema.

Temanggung, 21-02-2020

[1] ayam yang dimasak tanpa dipotong-potong

Aku Ingin

aku ingin menjadi gunung-gunung
yang kau sebut dalam
whatsapp story selain
dalam hati
buih-buih do’a

aku ingin menjadi merapi
yang gagah
meski sering muntah-muntah
dan kau di mana? tika
do’a malah lelap. huh, cuma kata.

Temanggung, 21-02-2020

Bulan Yang Menggugurkan Rindu

bulan menggugurkan rindu
kini kau dengar bual ibu

mboten sah mriko malih,
mriko mboten nate mriki.

maka—sekalinya bersua
tawa itu, biar aku benci.

tika duka kucerita, tika dinding hati
runtuh jua, iri. senyum amat ranum ‘tuk pelanggan

akupun sering lewat jalan kenang, mengenang.
duaniamu, tak tersentuh aku.

Temanggung, 22-02-2020

Aku Kini di Jakarta

aku kini di jakarta
bersua betapa
kesepiannya kota
mengukur jarak sekat
mengepul sisa cinta. adakah
rasa itu bersarang
tika saling jauh-jauhan

rindu?

Temanggung, 22-02-2020

 

Garis-garis Pada Layar Ponsel

garis-garis pada layar ponsel
itu penuh. serupa hatiku
dan bagaimana,
adalah rindu yang tanggal
usai kau kutinggal

rindu lagi-lagi rindu
rindu yang menggebu yang
cuma aku

Temanggung, 22-02-2020

 

Rencana

rencana, kita tinggal di gunung
menanti sunrise memburu
turis-turis manca
usah ketiduran
seperti bulan lalu
dan pendar senyummu tak terbit

renjana, cuma mengisi hatiku
hatimu penuh
: nama gunung, nama pos pemberhentian,
kawan-kawan yang didekap tas gunung,
aku hanyalah pengabadi
yang tak abadi

Temanggung, 22-02-2020

 

Bersamaku

bersamamu! bersamaku?
jalan-jalan yang membersamai
juga memasang ranjau-ranjau duniawi
kelopak-kelopak bunga
yang bermimpi jadi abadi
potret polaroid
nongol di instagram

salahkan hujan, dan angin jalang
tetiba datang, menerjang
tepian yang menggelincirkan atau
batu yang bersua kranium
sebelum memburai, bercampur darah
dan hilang seminggu
air mataku, sederas pekik ibu.

Temanggung, 22-02-2020

Pelayaran

cadik-cadik terbalik
sungai amnesia pada arus
pelayaran kita, di semenjana kata
kuantum rasa telah
menjadi dayung buat mengarung
arus yang bakal kita gerus
lambai tangan pada tanah
kerontang yang dihujani
berkali-kali

Temanggung, 22-02-2020

 

*sumber gambar: @cassi_josh

Aris Nohara

Fan JKT48 yang hobi menulis puisi. Berdomisili di Temanggung, Jawa Tengah. Menyukai puisi sejak membaca puisi karya Maulidan Rahman Siregar. Aktif menulis di blog http://arisnohara.wordpress.com.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *