Puisi-puisi Faisal Ismail – Faisal Ismail merupakan penyair yang lahir pada 15 Mei 1947 di Prembuan, Sumenep, Madura. Ia merupakan anak pertama dari 3 bersaudara. Keluarganya merupakan keluarga pamong Kalurahan setempat – semacam carik atau sekretaris. Berikut kumpulan puisi dari Faisal Ismail:

Telah Berserah Wajah Ini, Adikku

telah berserah wajah ini, adikku
yang resah, teramat resah, di bilik waktu
termangu pada gerimis tipis lalu
bayang-bayang kelabu masa lalu
dalam kembara ingin banyak tahu

telah berserah wajah ini, adikku
yang pasrah, teramat pasrah, disujud syahdu
tertunduk penuh harap dalam doa
adalah milik segenap rindu, milik segenap cinta
yang Tuhan membelainya senantiasa
– 1968

Gelora Laut Malam Hari Itu

Gelora laut malam hari itu
adalah gelora ombak-ombak beradu
gemuruh menggebu
bekerja memburu

Gelora laut malam hari itu, sayangku
adalah gelora dadaku
gejolak segenap rindu
memburu bayangmu
– 1968

Nina Bobo

Nina bobo anak-anak bayi
terbaring di ranjang mimpi
saat bulan pun padam ke bumu
gerimis berguguran malam hari
Dari jendela jauh ke angkasa
malam larut kelabu
langit pun susut beku
rindu terdampar meremas rasa
Tidurlah Umi, tidurlah tenteram
bersama lampu yang temaram
bahwa esok, esok, dan esok pagi
kehidupan adalah keringat kerja sehari-hari
– 1967

Ifa, Sajak-sajakku, Selamat Malam

Ifa, sajak-sajakku, selamat malam
selamat malam; segala yang lembutkah cinta
tengadah tangan yang banyak berpinta
hati yang ingin berbagi bahagia
menunggu seluruh usia
Ifa, sajak-sajakku, selamat malam
Selamat malam; akan lamakah kelam kelam
Gerimis mulai menderas, angin dingin menguak
larut malam yang kian mencekam
jam berdetak dan sepi mendesak
ke arah rindu yang mendendam
– 1969

Pada Suatu Batas

Pada suatu batas
Tak ada bekas
Kereta sudah lewat
Meupun menjerat
Pada suatu batas
Segala bergegas
Makna jadi sesat
Hilang segala mukjizat
Pada sebuah batas
Jejak tak tercatat
Terbunuh seluruh hasrat
Mayat lumat terhempas.
-1974

Malam Doa

Bertatapan dengan bayangan sendiri: sepi
Denyut demi denyut adalah waktu yang lenggang
Memadat hasrat di pusat nurani
Malam ruang yang remang bayang

Bisik-bisik lirih pada tasbih
Berkelebat gema-gema putih
Mata memejam jiwa, perlahan
Menempuh perasaan ke arah Tuhan
-1974

Almanak

Angin menghempas ke bukit yang jauh
Mencampak senja jadi luruh
Kini tinggal langit yang rabun
Sia-sia sepanjang tahun

Sesekali kita terlena
Sesekali kita terlupa
Menggusur duka kembara
Di batas pusara

Bayang-bayang yang berbaur
Pudar di kabut waktu
Kini hilang segala pelipur
Lumat jadi abu.
-1974

Senja Kemarau Di Muka Jendela

Senja kemarau di muka jendela
Tak ada lagikah cuaca, desir angin pada usia
Langit teramat lamban berbagai mega
Menyeka hasrat pada hayat kita

Dan angan-anganmu gemetar sekitar bayang-bayang
Merapatkah gelisah padaku penuh bimbang
Berikan kata-kata sepakat itu, sayang
Tak ada debat memisah hari datang

Pertanda sebuah gema yang panjang
Telah datang menyusup detik-detik lengang
Di sini, percakapan pun luruh seketika
Menunggu reda yang telah tiba
-1974

* Puisi-Puisi Faisal Ismail diambil dari buku Antologi Puisi 32 Penyair Yogyakarta: Tugu yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Provinsi DI Yogyakarta bekerja sama dengan Bharata Offset Yogyakarta di tahun 1968.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *