Menerbitkan Buku Independen: Sebuah Catatan – Beberapa tahun yang lalu, salah satu dilema penulis adalah naskah atau karya yang ditolak oleh penerbit. Banyak penulis menyerah dan putus asa. Beberapa saja yang bertahan; ia terus menulis dan tidak peduli dengan penerbitan; ia berharap kelak karyanya akan menjadi avant-grade; atau mungkin, banyak dari teman penulisku, ‘malahan’ beralih profesi menjadi penulis bayangan (ghost writer) yang jelas upahnya.

Namun sekarang dilema itu sirna. Industri penerbitan dan percetakan mengalami revolusi. Salah satu pemicunya adalah, dengan hadirnya industri POD atau pesan sesuai permintaan. Media sosial – lebih global lagi – atau ‘internet’, juga menjadi salah satu pemicunya. Mereka membuka peluang atau babak baru dalam dunia penerbitan.

Peluang pertama yang muncul adalah jasa penerbitan. Dengan bermodalkan CV atau izin resmi dari Dinas (bisa pinjam juga), mereka mampu menerbitkan naskah menjadi buku. Maksudnya, mereka mengurus ISBN sebagai legalitas bahwa naskahnya sudah diakui secarah resmi di mata internasional. Sebagai tambahan mungkin memberikan bonus Free Layout dan Free cover. Bahkan Free Editor-yang-kadang-merangkap-penyunting.

Jasa menerbitkan naskah seperti itu, tarifnya sekitar 500-600 ribu. Bisa kurang bisa lebih (CMIIW, itu terjadi sekitar tahun 2011-an, soalnya aku pernah mencoba memakai jasa menerbitkan naskah di saat itu. Katanya mengurus ISBN harus bayar 500 ribu, belum biaya layout, kover, dsb. Dan sekarang ISBN sudah gratis). Intinya, pasar (dan Negara) yang menentukan.

Jadi di tahap awal ini hanya menerbitkan, bukan mencetak. Sedang untuk cetak, paling aman lempar saja. Kalaupun membeli alat produksi relatif murah. Mesin bekas atau modifikasi juga mulai banyak dijual di pasaran. Tidak perlu impor. Bahkan di tahun 2017-an sudah banyak penyedia jasa sewa mesin untuk industri POD. Biayanya pun relatif murah, sekitar 30-50 rupiah perlembar.

Di titik ini, peluang kedua hadir: industri POD. Jadi setelah naskahmu diterbitkan, kamu akan dapat bukti terbit berupa buku fisik. Peluang pasar industri POD pun meningkat dan terbuka lebar. Penulis-penulis yang dulu naskahnya ditolak, juga merasakan peluang ini. Bahkan banyak kawanku yang menjadi penulis bayangan mulai berani menampakkan diri.

“Injing, aku nulis berbulan-bulan masak sia-sia. Nggak terbit. Hash, penting dapat ISBN dan bukti fisik. Terus kalau nggak diterbitin buat apa? Yaudah, aku terbitn aja sendiri, paling cuman gopek. Capek juga aku nulisin orang terus,” seloroh kawanku.

Aku mulai melihat fenomena ini mungkin sejak 2014. Karena waktu itu aku juga kerja di percetakan. Bosku yang biasanya nyetak undangan dikah, kalender, dsb, mulai berani membeli mesin cetak untuk POD. Lalu garapanku mulai banyak berkisar di sekitaran buku.

Karena sangat menguntungkan dan minim resiko, akhirnya bosku perlahan-lahan transmigrasi ke industri POD. Di titik ini, mau tidak mau, berarti bosku harus membuat penerbitan. Agar sekalian bisa menerbitkan buku ber-ISBN.

Alurnya pun sederhana: Naskah masuk-layout+kover-terbit-jual.

Lha, dalam aspek penjualan atau pemasaran lebih menarik lagi. Penulis – yang memanfaat peluang menerbitkan buku secara independen –normalnya juga punya kawan-kawan, organisasi atau komunitas. Dan ia bisa menjual atau memberikan bukunya yang sudah terbit tadi secara manasuka. Menjual boleh, dibagikan juga boleh. Menjual pun harganya bisa seenaknya. Misalnya, ia mengeluarkan uang 500 ribu untuk buku terbit+10 buku cetak. Ya sudah, jual aja dengan harga 70 ribu misalnya. Untung 20 ribu. Sementara penerbit atau percetakan, dengan menerbitkan sejumlah eksemplar buku, tentunya ia sudah mendapatkan untung: pertama, untung secara ekonomi; kedua, promosi; dan ketiga jaringan.

Penerbit-penerbit besar pun mulai mengikuti pola bisnis yang menarik ini. Dari segi penyedia jasa, mereka ingin mewadahi penulis-penulis yang naskahnya sering ditolak agar tetap berusaha dan terus berkarya. Dari pengguna jasa, mereka senang karena jerih payah mereka menulis terwadahi. Bisnis yang seperti itu ibarat baut ketemu skrup, pas. Saling menguatkan.

Jadi, menerbitkan buku secara independen atau self-publishing atau indie, merupakan alternatif terbaik baik bagi penulis dan penerbit untuk melawan hegemoni penerbit besar. Karena apa? Dibandingkan melawan dengan frontal, bukankah lebih baik kita pindah pasar?

Mudahnya, jika kamu ingin membeli rokok Surya 16 di Omegamart, tapi di situ kamu merasa terlalu mahal, daripada kamu mengkritik atau bahkan nyinyir pekok-gak-ketulungan, bukankah lebih baik kamu pindah ke warung kelontong. Sama-sama dapat rokok. Kamu senang karena mendapat rokok dengan harga murah. Warung kelontong, juga senang karena dagangannya laku.

Namun perlu diingat, menerbitkan buku independen juga mempunyai kekurangan dan kelebihan, baik bagi penulis maupun penerbit.

Featured Image: neobrand via unplash

Maghfur Munif

Aku lahir di Gresik, nomaden, pecandu kopi, arbitrer seperti bahasa, suka catur, dan kerap menulis. Cita-citaku manunggaling kawulo teks. Bisa dihubungi lewat Twitter: @punkysme atau email: punkysme@gmail.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *