Perihal buku dan dimensinya – Aku tahu, ini sebenarnya penting-nggak-penting untuk dibicarakan. Tanpa dideskripsikan atau dijelaskan pun semua orang sudah tahu apa itu buku. Buku tidak asing di telinga kita, ditemui saban hari, di sembarang tempat.

Anggapan orang-orang ketika mendengar kata ‘buku’, cenderung merujuk pada kumpulan kertas berisi tulisan dan dijilid – dan dijual. Sekiranya, semua sepakat tentang itu. Namun, bagaimana jika kita mengurai perihal buku dan dimensinya dengan lebih mendalam, mengingat karena bukan sesuatu yang asing itulah – ditemui sehari-hari, di sembarang tempat, sampai mungkin beberapa dari kalian merasa jeleh dengan tumpukan buku – maka kita kesulitan menjelaskan detil, dan jika tidak terlalu ruwet, menjelaskan hakikat dari buku.

Sejauh ini, aku menemukan sedikit sekali tulisan atau buku yang membahas perihal buku. Setidaknya aku sudah mengkoleksi 4 buku yang Membahas Buku Dalam Buku. Salah satu tulisan yang menarik tentang dunia buku lain serta hubungannya dengan perpustakaan adalah adalah buku dari Wiji Suwarno, Perpustakaan dan Buku, Wacana Penulisan dan Penerbitan yang diterbitkan Ar-Ruzz Media pada tahun 2011. Editor buku ini adalah Meita Sandra.

Dari buku itu, aku tahu bahwa UNESCO membuat definisi teknis tentang buku: buku adalah terbitan nonberkala yang berupa cetakan minimal 49 halaman tidak termasuk sampul dan dipublikasikan. Jadi, minimal 49 halaman. Entah berapa ukuran minimal atau maksimalnya berapa).

Manifesto Karl Marx yang nganu itu aku dapatkan ternyata agak tebal, sekitar 70-an halaman A5. Meskipun beberapa guruku mengatakan itu adalah pamflet, namun beberapa orang mengatakan itu juga buku. Dikatakan pamflet mungkin karena tidak dipublikasikan, dalam artian tidak ada ISBN-nya (mungkin).

Wiji Suwarno (2011: 49) mendefinisikan buku sebagai berikut: buku adalah kumpulan kertas atau bahan lain yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan atau gambar. Lalu pada setiap sisi pada buku atau lembaran kertas pada buku disebut sebuah halaman.

Definisi buku dari Wiji Suwarno lebih banyak dikutip orang-orang karena lebih umum. Akan tetapi, ada dua pertanyaan yang terbesit dalam benakku: pertama, apakah buku kumpulan puisi yang hanya 30 halaman A6 bisa dikatakan sebagai buku?; kedua, sehubungan dengan perkembangan zaman, yang mana muncul buku elektronik (selanjutnya aku tulis ebook, tanpa miring), bagaimana jilidanya? Jika yang dimaksud jilid adalah ‘utuh’ maka bagaimana dengan website yang juga pada dasarnya dijilid dalam satu server? Lalu, bukankah, di awal-awal kemunculan buku, baik di Cina atau Yunani, buku-buku digulung dan bukan dijilid?

Dari situlah, kemudian aku tertarik ingin menulis perihal buku dan dimensinya. Sebagai langkah awal dari tulisan ini, aku akan merangkum tulisan dari Wiji Suwarno (2011). Hal itu dikarenakan buku itu terdapat satu bab yang fokus membahas Buku dan Aspeknya (Bab III).

Menurut Suwarno (2011: 50) buku lahir pertama kali pada 2400-an SM di Mesir setelah ditemukan papirus. Papirus sendiri merupakan sejenis kertas yang terbuat dari rerumputan sekitar Sungai Nil. Rerumputan itu kemudian dihaluskan dan difungsikan sebagai alat tulis.

Ada juga yang mengatakan bahwa buku sudah ada sejak zaman Sang Buddha di Kamboja. Alkisah, ketika Sang Buddha ingin mengabadikan pesannya dari Tuhan dan menjadikannya sebagai buku panduan bagi umatnya, Sang Budha menuliska pesan itu pada daun.

Dari Kamboja, selanjutnya buku berkembang di Cina. Suwarno (2011: 51) menulis bahwa para cendekiawan menuliskan ilmu-ilmunya di atas lidi yang diikatkan menjadi satu. Menulis pada lidi tidak mungkin dengan gaya menulis horizontal, harus atas-bawah atau vertikal. Dan juga lidi tidak bisa dijilid. Karena itu, (konon) karena adat dan budaya gaya menulis vertikal ini, sampai abad 21 ini penulisan huruf Cina pun masih tetap ditulis sebagaimana dulu.

Secara bahasa, buku berasal dari kata kata biblio, bibliotec, dan bibliotecha yang berarti pustaka, buku.  Suwarno (2011: 52) mengutip Ensiklopedia Indonesia (1980: 538) menyebutkan bahwa buku dalarn arti luas, berarti mencakup semua tulisan dan gambar yang ditulis dan dilukiskan atas segala macam lembaran papirus, lontar, perkamen, dan kertas dengan segala bentuknya: berupa gulungan, dilubangi dan dlikat dengan atau dijilid muka belakangnya dengan kulit, kain, karton, dan kayu.

Agaknya, pengertiaan ini sudah cukup detil. Terkecuali minimal halaman. (Sebagai catatan saja, berdasarkan pengalamanku, jumlah minimal untuk menerbitkan buku ber-ISBN di Perpusnas adalah 80 halaman).

Pengertian buku dari Ensiklopedia Indonesia tersebut mungkin bisa disederhanakan sebagai berikut: buku adalah tulisan tercetak di atas media berisi informasi yang disatukan menjadi satu kesatuan. Jadi, Jika digabung dengan pengertian dari UNESCO, maka buku adalah 1) tulisan tercetak 2) di atas media 3) berisi informasi 4) yang disatukan menjadi satu kesatuan 5) minimal terdiri dari 49 halaman dan 6) dipublikasikan.

Itulah keenam dimensi menjadi sebuah buku, menurutku. Keenam dimensi itu, melihat perkembangan buku di Indonesia yang semakin bergairah ini, mempunyai problematika tersendiri-sendiri, menurutku.

Maghfur Munif

Aku lahir di Gresik, nomaden, pecandu kopi, arbitrer seperti bahasa, suka catur, dan kerap menulis. Cita-citaku manunggaling kawulo teks. Bisa dihubungi lewat Twitter: @punkysme atau email: punkysme@gmail.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *