Agama Jawa Edisi Revisi merupakan buku yang ditulis Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum. Buku ini termasuk dalam kategori Kajian Akademik yang diterbitkan Narasi pada tahun 2018.

Kutipan

Agama Jawa Edisi Revisi – Kalau mau mengakui, agama di Jawa adalah produk kekuasaan masa lalu. Adapun kepercayaan adalah produk nurani Jawa. Kepereayaan lahir dari penghayatan mendalam terhadap ada dan tiada. Tapi terlepas dari bagaimana riilnya kesan-kesan ini, dia tetap tidak akan mempengaruhi definisi agama kita. Paling tidak, di negeri ini, agama memang masih bersifat politik. Definisi ini hanya bisa diterapkan pada fakta riil dan “jadi”, bukan pada kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti. Agama-agama dapat didefinisikan sebagaimana adanya sekarang atau sebagaimana adanya di masa lalu, bukan sebagaimana kecenderungan-kecenderungannya di masa datang yang masih kabur. Bahkan agama sering dikaitkan dengan kolektit, hingga ada orang yang dianggap “lebih beragama” karena memiliki kolektif relatif besar (agama dominan).

Sebaliknya, kepercayaan Jawa Sering dianggap minor, sehingga posisinya kurang menguntungkan. Posisi kepercayaan dianggap “kurang beragama”, biarpun sebenarnya juga beragama. Bisa saja individualisme religius akan menjadi kenyataan; tapi untuk bisa berkata seperti itu, kita pertama-tama tentu harus tahu terlebih dahulu apakah agama itu, elemen-elemen apa yang membentuknya, sebab-sebab apa yang memicunya, dan fungsi-fungsi apa yang dijalankannya-pertanyaan — pertanyaan yang jawabannya tidak bisa terburu-buru ditentukan. Namun demikian, paling tidak, di Jawa ini agama cenderung dianggap produk politik, sebagai warisan masa lalu yang memiliki “pedoman” atau kitab. Adapun kepercayaan adalah produk kultural, yang tidak memiliki pedoman (kitab) khusus.

Agar tidak memunculkan perdebatan sengit, baiklah saya batasi apa dan bagaimana itu agama Jawa. Agama adalah kesatuan sistem kepercayaan dan praktik-praktik yangvberkaitan dengan hal ihwal yang sakral, yaitu hal-hal yang disisihkan dan terlarang, kepercayaan dan praktik-praktik yang menyatukan seluruh orang yang menganut dan meyakini hal-hal tersebut ke dalam satu komunitas. Istilah komunitas, saya ketengahkan sejajar dengan gagasan Victor Turner (1967), yaitu suatu kolektif yang memiliki keinginan dan kecenderungan relatif homogin. Komunitas terbentuk karena adanya kesamaan pandang dan tindakan.

Sesungguhnya kalau agama itu sebuah unfied system of beliefs and practices relative to sacred things, kepercayaan pun demikian. Dari konteks ini, tampak agama pun sesungguhnya mempunyai konsep kepercayaan. Agama jelas tidak mungkin lepas dari kepercayaan. Apalagi kalau kepercyaan ini diterjemahkan sebagai keyakinan. Orang Jawa jelas telah lama memiliki keyakinan asli atau kepercayaan asli  yang konon juga dapat disebut agama Jawa. — Sumber: Buku Agama Jawa Edisi Revisi, halaman 3-4.

Daftar Isi

  • PENGANTAR PENERBIT — v
  • KAYU GUNG SUSUHING ANGIN — ix
  • DAFTAR ISI — xix
  • BAB I – APA DAN BAGAIMANA AGAMA JAWA — 1
    • A. Perdebatan Sengit Agama Jawa — 1
    • B. Konteks Klenikologi dan Agama Jawa — 6
    • C. Agama dan Keberadaban Jawa — 13
    • D. Ekspresi Religiusitas Orang Jawa — 19
  • BAB II – CIRI-CIRI AGAMA JAWA. 25
    • A. Memiliki Wawasan Historis dan Mistik — 25
    • B. Teosofi dalam Agama Jawa — 28
    • C. Slametan dan Tradisi Keagamaan Jawa — 31
    • D. Sinkretisme Kejawen dalam Perspektif Sejarah — 36
    • E. Memanfaatkan Teks, Asketisme, dan Ritualistik  — 41
  • BAB III – TEORIAGAMA JAWA — 49
    • A. Keyakinan pada Dewa, Mana, dan Wahyu — 49
    • B. Badan Alus dan Eskatologi Jawa — 55
    • C. Ngelmu Gaib: Merambah Dunia Wingit — 61
    • D. Sesaji: Negosiasi Spiritual — 64
    • E. Komponen Pokok Agama — 69
  • BAB IV – PERGULATAN AGAMA JAWA — 75
    • A. Topografi dan Ruang Agama Jawa — 75
    • B. Pergulatan Seni Religius Jawa — 83
    • C. Manembah dan Nguja Rasa — 89
    • D. Antara Magi dan Pangastuti dalam Agama Jawa — 98
  • BAB V – KONSEP HIDUP CAKRAMANGGILINGAN DALAM AGAMA JAWA — 107
    • A. Hidup Tumimbal Lahir — 107
    • B. Simbol Warna dan Anasir Perputaran Hidup — 115
    • C. Cakra: Falsafah Etika dan Sangkan Paran — 124
  • BAB VI – PRAKTIK AGAMA JAWA — 129
    • A. Jalan Keselamatan Memandang Teratai Putih — 129
    • B. Pasrah Memahami Pendumadian — 133
    • C. Jamasan Menuju Makrifat Kejawen — 145
    • D. Merti Jiwa untuk Kesucian Hidup — 154
  • BAB VII – PENGALAMAN AGAMA JAWA — 161
    • A. Pengalaman Eksoterik dan Isoterik — 161
    • B. Menjadi Semut dan Lebah — 166
    • C. Religiustitas Kupu-Kupu dan Laron — 170
    • D. Pengalaman Gnostik dan Eskatologi. 185
  • BAB VIII – KEJAWEN DAN SENTRAL AGAMA JAWA — 189
    • A. Kejawen Selalu Ngudi Sejatining Becik — 189
    • B. Kejawen sebagai Roh Aganma Jawa — 192
    • C. Agama Jawa Itu Simbol — 197
    • D. Bawa Rasa Kejawen — 203
  • BAB IX – TUHAN DAN ASAL-USUL AGAMA AWA — 213
    • A. Ingsun, Sang Alip, dan Tuhan — 213
    • B. Animisme sebagai Cikal Bakal Agama Jawa — 218
    • C. Santi Puja, Animatisme, dan Monoteisme — 229
    • D. Pemujaan terhadap Leluhur dan Dinamisme — 235
  • BAB X – FALSAFAH SANGKAN PARANING DUMADI — 241
    • A. Konsep Sangkan-Paraning Dumadiv   241
    • B. Inti Rahsa Sejati dan Sejatining Rasa — 250
    • C. Menemukan Realitas Tertinggi — 256
    • D. Metafisika: Evolusi Hidup — 261
  • BAB XI – MANUNGGALING KAWULA-GUSTI DALAM KONTEKS AGAMA JAWA — 209
    • A. Sabawa Rasa dan Kaki Gunung Nini Jaladri — 269
    • B. Metafora Kawula dan Gusti — 279
    • C. Kawula-Gusti dalam Paham Pantheisme dan Monoisme — 291
    • D. Manunggaling Kawula-Gusti dan Dunia Mimpi — 297
  • BAB XII – SIKAP HIDUP DAN PENGENDALIAN DIRI — 303
    • A. Gejolak Nafsu Hitam — 303
    • B. Gejolak Nafsu Merah — 307
    • C. Gejolak Nafsu Kuning — 313
    • D. Gejolak Nafsu Putih —.319
  • BAB XIII – TAPA BRATA DI PUNCAK GUNUNG — 329
    • A. Penggemblengan Diri, Metamorfosa Enthung, dan Turun Gunung — 329
    • B. Kupu-kupu Putih: Mudhar Warananing Gaib — 334
    • C. Manekung dan Tataran Mistik Kejawen — 342
    • D. Manekung Sebagai Sembah — 350
  • BAB XIV – GURU SEJATI DALAM AGAMA JAWA — 359
    • A. Apa dan Siapa Guru Sejati — 359
    • B. Pentingnya Guru Sejati  — 365
    • C. Melankoli Jika Lepas dari Guru Sejati — 307
    • D. Mengolah Guru Sejati — 370
    • E. Menemukan Guru Sejati — 374
  • DAFTAR PUSTAKA — 385
  • TENTANG PENULIS — 392

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Organisasi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *