Ateisme Sigmund Freud merupakan buku yang ditulis Hans Kung. Buku ini termasuk dalam kategori “Esai” yang diterbitkan Basabasi pada tahun 2017.

Sinopsis

Dengan hipotesisnya yang, boleh disebut, ateisistik-brutal, Sigmund Freud berlabuh pada kesimpulan ekstrem bahwa simbol-simbol dan ritual-ritual agama, dan tentunya juga pemeluk-pemeluknya, sama dengan perilaku pasien-pasien neurotisnya di rumah sakit jiwa. Agama adalah ilusi-ilusi kegilaan, sebagaimana kegilaan yang diidap para penghuni rumah sakit jiwa di tempatnya bekerja.

Semua ritual agama adalah bullshit bagi Freud. Bukankah, dengan analogi yang gahar, perbuatan-perbuatan yang tak dapat dijabarkan oleh rumus-rumus logika-fisika-eksakta itu hanyalah kesia-siaan, cermin kebingungan, kegelisahan, kecurigaan, ketakutan, dan karenanya sama persis dengan tingkah-laku orang gila dalam gelak-tawa, cengar-cengir, dan sebagainya?

Tetapi, ada satu hal yang sangat digelisahkan oleh Freud, mengapa mayoritas manusia mempertahankan kegilaan itu dengan landasan keyakinan yang sangat ultrafanatis? Apakah, jika mengikuti logika Freud, semua manusia telah gila? Lantas, kalau memang demikian, bagaimana kita mesti membedakan kegilaan dengan kesehatan, kesetanan dengan kemanusiaan?. Hans Kung menguraikannya dengan kritis dalam buku ini. —–Sumber: Cover Belakang Buku Ateisme Sigmund Freud.

Kutipan

Akar Ateisme Freud —-Bapak ateisme Marxis dan ateisme Freudian, yaitu Ludwing Feuerbach, awalnya adalah seorang teolog, kemudian menjadi seorang Hegelian dan akhirnya menjadi filosof ateistik. Setelah kegagalan revolusi politik pada tahun 1984, Feuerbach yang menggagas revolusi lain-dan sukses kemudian terangkat oleh pengetahuan alam (natural sciences), radikal, pengetahuan alam korosif, khususnya ilmu kimia. Kendati reaksi pemerintah, dengan keterbatasan visi mereka, tidak berdasarkan fakta, namun pengetahuan alam “telah jauh sebelumnya tidak mampu menjelaskan pandangan dunia Kristen tentang asam sendawa” Filosof itu seorang diri menjabarkan pengetahuan alam meskipun kemudian terjebak kembali ke dalam teologi; padahal filsafat tidak bisa dikaitkan secara tegas dengan teologi, namun dengan pengetahuan alam. Setelah menembangkan doa bagi Copernicus, “revolusi pertama dalam era modern”?. Sumber: Buku Ateisme Sigmun Freud, halaman; 13

Daftar Isi

  • KATA PENGANTAR. — 3
  • Daftar Isi. — 9
  • Pendahuluan. — 11
  • BAB I  (AKAR ATEISME FREUD). — 13
    • Dari Tlmuwan Alam ke Ateis. — 16
    • Dari Fisiologi ke Psikologi. — 27
    • Harapan-harapan Tersembunyi. — 32
  • BAB II (PEMAHAMAN FRUED TENTANG ASAL-USUL AGAMA). — 43
    • Apakah Sumber Agama?. — 43
    • Apakah Esensi Agama?. — 55
    • Pendidikan Realitas. — 63
  • BAB III (KRITIK FREUD). — 71
    • Cakrawala Kritik Psikoanalisis. — 72
    • Asal-usul Perdebatan Agama. — 84
    • Agama, Hanya Pemenuhan Harapan?. — 95
    • Keimanan pada Sains. — 103
    • Mungkinkah Religiusitas Ditekan?. — 107
  • BAB IV (KRITIK ATAS KRITIK). — 15
    • Kejujuran dalam Berhubungan dengan Agama. — 116
    • Justifikasi Kritik Agama Freud. — 119
    • Pentingnya Psikoterapi bagi Agama. — 123
    • Kritik dan Antikritik. — 127
    • Pentingnya Agama bagi Psikoterapi. — 136
  • CATATAN KAKI. — 151
  • INDEKS. — 167
  • TENTANG PENULIS. — 173

 

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Organisasi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *