Kolong Budaya merupakan buku yang diterbitkan oleh Yayasan Indonesia Tera. Buku ini termasuk dalam kategori Jurnal Budaya yang diterbitkan pada tahun 2003.

Kutipan

Gerakan Penyair Baru dan Hamzah Fansuri — Kolong Budaya- Puisi Indonesia modern sebagai suatu tust dari tradisi pribumi dan modernisme “Barat telah dirintıs pada 1930-an sejak masa kolonial oleh sebuah gerakan sastra modern yang bernama “Pujangga Baru”. Aktivitas Pujangga Baru ini berkaitan erat dengan gerakan nasional kemerdekaan lndonesia, dan dilakukan oleh sekelompok inteletual terpelajar, penulis, dan penyair. Sebagaimodernisator mereka berjalan seiring dengan “Sumpah Pemuda”, suatu gerakan yang dilakukan pada 1928, untuk menyatukan semua gerakan perjuangan kemerdekaan di Indonesia di bawah prinsip-prinsip berikut: 1. Satu bangsa (Indonesia) 2. Satu Tanah Air (Indonesia) 3. Satu Bahasa (lndonesia).

Seperti telah dikemukakan di depan, bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu, bahasa lingua franca yang telah dipergunakan sejak era sebelum masa kolonial. Bahasa Indonesia (berakar Melayu) ini telah digunakan sejak awal abad ke-20 sebagai bahasa kesatuan lndonesia sebagai bahasa alternatif selain bahasa Belanda dan bahasa daerah lainnya. Pers “nasionalis” sebagai oposan dari pers “kolonial”, yang terus menggunakan bahasa Belanda, mulai ditulis dalam bahasa Indonesia sejak awal abad ke-20. Mulai tahun 1920-an, penulis dari berbagai latar belakang etnik mengikuti arus gerakan anti-kolonial dan mulai menuliskan sastra mereka dalanm bahasa Indonesia, yang terinspirasi oleh inisiatif Belanda untuk menerbitkan buku Melayu untuk “memperkenalkan pengajaran memaca yang baik untuk rakyat awam. Masyarakat kolonial yang melakukan transformasi ini jelas bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih luas dan mencakup masyarakat yang lebih besar. Tujuan kolonial dalam menyediakan bacaan yang “‘mendidik” ini adalah untuk memangkas serangan besar-besaran pers nasionalis.

Pada titik ini, kita kembali lagi kepada gerakan “Pujangga Baru” pada 1930 sebagai sayap kultural gerakan nasional yang telah melahirkan suatu generasi baru penyair “modern”. Gerakan ini memperkenalkan perdebatan yang seru tentang modernisme versus tradisional. Dengan menulis dalam bahasa Indonesia, dan bukan dalam bahasa daerah, para penyair ini, secara definitif, dimasukkan dalam golongan modernis. Gerakan ini pun telah memunculkan sejumlah penulis terkemuka. Beberapa di antaranya adalah Amir Hamzah dan Sanusi Pane yang merupakan figur puisi-puisi yang paling pentng Mereka berdua telah menulis corak yang berkualitas tingg, dengan penggunaan mout dan tradisional dan bentuk-bentuk Barat secara kreatit, terutama untuk bentuk soneta. — Sumber: Buku Kolong Budaya, halaman 182-183.

Daftar Isi

  • Pembuka = Ruang Kosong dan Kata — 3
  • Ulasan Redaksi = Indigenous dan Kontemporer — 7
  • Frank Stewart = Nilai-Nilai Puitika Indigenous bagi Dunia Puitika Kontemporer — 21
  • Noor Fardah Abdul Manaf = Tarik-Ulur: Krisis ldenutas Puisi-Puisi Malaysia Berbahasa lnggris — 31
  • Ko Un = Puisi Pribumi dan Puisi Modern — 46
  • Nguyen Bao Chan = Puisi Vietnam: Di tengah Musim Gugur — 54
  • Kazuko Shiraishi = Puisi Lisan Ainu dan Puisi Lisan Kontemporer — 59
  • Montri Umavijani = Kelangsungan Puisi Thai — 62
  • Harry Aveling = Mimpi yang Retak: Puisi Pribumi dan Puisi Kontemporer Australia — 74
  • Antony L Tan = Tradisi Lisan Sastra Tausug — 105
  • Anton Postma = Ambahan: Puisi Mangyan darı Mindoro — 121
  • Kirpal Singh = Taman Kerajaan Sukma: Puisi dan Politik di Singapura Masa Kini — 149
  • Linda Charwan Earle = Orang Asing Semua Bangsa — 159
  • Sitor Situmorang = Catatan dan Jaring Jaring Puisi Pribumi & Kontemporer; Kasus Keindonesiaan — 176
  • Sri Sunan Pakubuwono V = Fragmen Centhini — 189
  • Yudi A. Tadjudin, Gunawan Maryanto, Andre Nur Latif, Ugoran Prasad = Waktu Batu: Kisah-Kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu — 343
  • Heri Setiawan = Ina Kabukı (Gerita Rakyat Pulau Buru) —  352
  • Marshal Clark = Bertarung dengan Bayang-Bayang: Penulis lndonesta dan Kisah Ramayana — 565
  • Revitriyoso Husodo =  Suara-Suara dari Balik Jeruji Penjara — 417
  • Hersi Setiawan = Ruth Havelaar di San Francisco: Membuka Horison Baru — 424

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Organisasi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *