Masyarakat Tanpa Tuhan merupakan buku yang ditulis  Phil Zuckerman. Buku ini termasuk dalam kategori Esai yang diterbitkan Basabasi pada tahun 2018.

Sinopsis

Di Timur Tengah, bentuk-bentuk Islam yang kuat semakin populer dan semakin aktif dalam politik. Dari Brazil hingga El Salvador, Evangelikalisme Protestan menyebar dengan keberhasilan yang besar, menanamkan gairah spiritual dan suci di seluruh Amerika Latin. Pantekostalisme juga berkembang—dengan hebat—dan tidak hanya di seluruh Amerika Latin, tetapi juga di Afrika bahkan China. Di Filipina, puluhan ribu orang menyerahkan diri untuk pergerakan-pergerakan agama baru seperti El Shaddai. Banyak negara bekas Uni Soviet, yang menganut ateisme selama puluhan tahun, telah muncul dengan keimanan yang tidak hanya utuh, tetapi juga kuat dan bersemangat. Bahkan di Kanada, negara yang hampir tidak dikenal vitalitas religiusnya, ada bukti kebangkitan spiritualitas dan agama.

Di tengah-tengah kesalehan global yang bersemangat, di atas lautan luas kesakralan, Denmark dan Swedia mengapung layaknya perahu kecil kehidupan sekuler yang bertahan, yang di dalamnya sebagian besar orang tidak religius dan tidak menyembah Yesus atau Wisnu, tidak memuja naskah-naskah suci, tidak beribadah, serta tidak memercayai dogma esensial agama-agama besar di dunia. Orang-orang di dalamnya menunjukkan bahwa penyembahan Tuhan bisa melemah, doa bisa berhenti, dan Injil bisa tidak dipelajari, tetapi manusia tetap bisa memperlakukan orang lain dengan sopan, sekolah dan rumah sakit masih bisa berjalan lancar, kejahatan bisa tetap minim, bayi-bayi dan lansia bisa menerima semua perawatan dan perhatian yang mereka butuhkan, perekonomian bisa berkembang, polusi bisa tetap diminimalisir, denda tilang bisa dibayar, dan anak-anak bisa dicintai dalam rumah yang aman dan hangat.

Buku ini menelusuri dengan lebih mendalam dan berusaha menjelaskan bagaimana dan mengapa masyarakat tertentu tidak religius di dunia yang saat ini sangat religius.

Kutipan

Seperti apa masyarakat ketika keyakinan pada Tuhan minim, kehadiran di gereja sangat rendah, dan agama adalah aspek kehidupan sehari-hari yang jelas bisu dan marginal? Jika orang-orang tIdak terlalu Sering mengkhawatirkan keselanm s bersembahyang, tidak terlalu elamatan jiwa mereka, dan tidak menanamkan kepada anakanal mereka kepercayaan kuat pada Yesus, bagaimana kondisi keseluruhan masyarakat yang relatir sekuler seperti itu? Pernah merasakan tinggal dalam masyarakat yang tepat seperti itu, saya dengan percaya diri dapat menyatakan bahwa jawabannya bukan kekacauan, keegoisan, kriminalitas, atau kerusakan masyarakat. Seperti yang saya nyatakan dalam Kata Pengantar, terlepas dari sekuleritas relatifnya, Denmark dan Swedia bukanlah benteng kebobrokan moral dan anarki. Malah, negara-negdra ini bersifat sebaliknya: contoh mengesankan dari masyarakat yang sehat. Sumber; Buku Masyarakat Tanpa Tuhan, halaman 41-42.

 

Daftar Isi

  • Ucapan Teima Kasih — 5
  • Kata Pengantar — 7
  • Daftar Isi — 39
    • Masyarakat tanpa Tuhan — 41
    • Jens, Anne, dan Christian — 79
    • Takut Mati dan Arti Hidup — 125
    • Lene, Sonny, Gitte — 164
    • Menjadi Sekuler — 205
    • Mengapa? — 236
    • Dorthe, Laura, dan Johanne — 270
    • Agama Budaya — 318
    • Kembali ke Amerika Serikat — 352
  • Lampiran
  • Karakteristik Sampel dan Metodologi — 389
  • Catatan-Catatan — 395
  • Bibliografi — 431
  • Tentang Penulis — 453
  • Indeks — 454

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Organisasi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *