Muslim Tanpa Masjid merupakan buku yang ditulis Prof. Dr. Kuntowijoyo. Buku ini termasuk dalam kategori “Agama” yang diterbitkan Diva Press pada tahun 2018.

Sinopsis

“Generasi baru Muslim telah lahir dari rahim sejarah, tanpa kehadiran sang ayah, tidak ditunggui saudara-saudaranya. Kelahirannya bahkan tidak terdengar oleh Muslim yang lain.”

Sayang, dikarenakan tangis mereka kalah keras oleh gemuruh reformasi, generasi baru ini luput dari pengamatan. Bahkan oleh sebagian kalangan, mereka dikira bukan bagian umat. Mereka adalah generasi baru yang kini bermekaran dalam satuan-satuan lain, seperti negara, bangsa, daerah, partai, ormas, kelas usaha, dan sebagainya. Pengetahuan agama mereka bukan dari lembaga konvensional, seperti masjid, pesantren, atau madrasah, melainkan dari sumber anonim, seperti kursus, seminar, buku, majalah, kaset, CD, VCD, internet, radio, dan televisi. Banyak yang tercengang melihat fenomena ini. Seperti halnya banyak agamawan yang tidak sanggup melihat gejala-gejala modern sehingga gagal memahami makna kesenjangan struktural, atau pelaku KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) berjubah kesalehan.

Berbagai kecenderungan baru Islam di Indonesia dewasa ini—termasuk lahirnya generasi Muslim tanpa masjid—dieksplorasi secara tajam oleh Kuntowijoyo dengan suatu metode yang disebutnya strukturalisme transendental. (Di bagian awal, Kunto menjelaskan panjang Jebar mengenai metode tersebut). Inilah jurus paling baru Kunto dalam memahami, sekaligus menerapkan, ajaran-ajaran Islam dalam konteks kekinian. — Cover Belakang Buku Muslim Tanpa Masjid

Kutipan

Dalam bidang sosial, sering orang lupa ada satuan yang bernama umat. Kita tidak sensitif kepada bagian umat yang kekurangan sandang, pangan, dan papan. Kebanyakan kita baru sadar bahwa ada yang kurang pada kita sebagai umat ketika segalanya itu memudahkan pemurtadan. Demikian pula dengan rasa aman. Sebagai kelanjutan dari peristiwa G-30-S/PKI banyak orang yang bertukar agama, semata-mata karena perbedaan politik. Sebenarnya mereka mau tetap tinggal dalam Islam, tetapi rasa aman tidak terjamin, padahal agama lain menjanjikan rasa aman yang diperlukan. Sumber: Buku Muslim Tanpa Masjid, halaman 18.

Daftar Isi

  • Daftar Isi. — v
  • Pengantar — 1
  • Strukturalisme Transendental. — 2
  • BAGIAN PERTAMA: ESAI-ESAI AGAMA
    • Dalam Masyarakat ndustrial Ulama Bukan Lagi Kategori Sosial. — 26
    • Peranan Cendekiawan Muslim. — 34
    • Islam Indonesia Kontemporer: Mencari Jati Diri Ormas Agama. — 45
    • SI-Putih, SI-Merah, dan Pembaruan Pemikiran Islam. — 52
    • Impian Besar Sering Mengecewakan: 50 Tahun Sejarah Umat Islam. — 61
    • Tjokroaminoto, Natsir, dan Habibie: Tiga Tonggak Sejarah Umat. — 71
    • ICMI, Mobilitas Sosial, dan Demokratisasi. — 80
    • Dari Kerukunan ke Kerja Sama, Dari Toleransi ke Kooperasi. — 93
    • Paradigma Baru Ilmu-llmu Islam: Imu Sosial Profetik sebagai Gerakan Intelektual. —- 101
    • Tiga Strategi Pergerakan Islam: Struktur, Kultur, dan Mobilitas Sosial. — 114
    • Muslim Tanpa Masjid. — 130
    • Agenda Umat Islam. — 139
  • BAGIAN KEDUA: ESAI-ESAI BUDAYA
    • Majelis Kesenian Islam: Mencari Teori, Strategi, dan Metode Organisasi. — 154
    • Muhammadiyah sebagai Gerakan Kebudayaan Tanpa Kebudayaan, atau Satu Lagi Alasan Mengapa NU dan Muhammadiyah Harus Bersatu. — 164
    • Agama, Budaya, dan Transformasi Industrial. — 180
    • Kebudayaan, Masyarakat Industri Lanjut, dan Dakwah. — 188
    • Agama dan Kebudayaan. — 204
    • Seni: Alat Dakwah atau Simbol?. — 217
    • Islam dan Budaya Lokal. — 222
    • Islamisasi Jawaisme. — 240
    • Strategi Pengembangan Kebudayaan Islam. — 250
    • Islam dan Seni. — 270
  • BAGIAN KETIGA: ESAI-ESAI POLITIK
    • Islam dan Kebangsaan. — 282
    • Kesadaran Nasional, SI, dan ICMI. — 290
    • Penghinaan, Pengadilan, dan Ghirah. —- 297
    • Pluralisme Positif. —- 304
    • Bahasa Baru Wacana Politik Umat Islam”. —- 308
    • Objektifikasi.  — 319
    • Strategi Baru Politik Umat Islam.328
    • Struktur Budaya, Struktur Sosial, dan Struktur Teknik Sebuah Analisis Politik.. 335 —-
    • Enam Alasan untuk Tidak Mendirikan Parpol Islam. —- 344
    • Peta Politik bagi Umat Islam. —- 353
    • Mistiikasi Politik Gaya PKB dan Gaya Sl. —- 363
    • Bagainmana Demokrasi Politik Mengecoh Umat?. —- 370
  • PENUTUP
    • Ilmu Sosial Profetik: Etika Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial. —- 378
  • Daftar Pustaka. —- 399
  • Indeks —- 401
  • Tentang Penulis. —- 449

 

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Organisasi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *