Paman Gober Jadi Pahlawan Nasional merupakan buku yang ditulis Geger Riyanto. Buku ini termasuk dalam kategori Esai yang diterbitkan Basabasi pada tahun 2018.

Kutipan

Singkat kata, argumentasi mengapa Suharto layak dijadikan pahlawan nasional akan selalu ada.

Namun, kita seyogianya tidak lupa dengan satu hal yang akan saya sampaikan ini, sampai kapan pun. Pada masa Suharto, kita pernah menjadi saksi tak berdaya ketamakan tiada tara yang dilindungi kesewenang-wenangan mengerikan. Gambarannya? Saya belum bisa membayangkan penggambaran yang lebih tepat dari analogi informan penelitian disertasi Francisia SSE Seda ini.

“Bu, kalau kepala desa bisa memiliki dua lumbung, bukankah hal yang biasa bila presiden memiliki tiga lumbung?”

“Boleh-boleh saja. Masalahnya, orang-orang tersebut [Suharto dan para kronil tidak memiliki tiga, melainkan sepuluh.”

Itulah yang, nyaris secara harfiah, terjadi. —- Sumber; Buku Paman Gober Jadi Pahlawan Nasional, halaman 17.

Daftar Isi

  • Pengantar Penulis — 3
  • Daftar Isi — 9
    • Bagian 1 Tentang Kuasa dan Sindrom-sindromnya
  • Paman Gober Jadi Pahlawan Nasional — 4
  • Berbhineka Bila Perlu — 24
  • Banyak Pancasilais tapi di Mana Pancasila? — 30
  • Kiat Menjadi Presiden di Era Kekinian — 36
  • Mengingat Mantan — 42
  • Nepotisme  atau Sayang Keluarga — 47
  • JawaTetaplah Kunci — 53
  • Pahlawan Tanpa Tanda Layak — 59
  • Prekariat Politik Bernama Anies — 65
  • Teknopolitik Jokowi — 71
    • Bagian 2 Politik Identitas, Perebutan Lapak
  • Konflik Agama: Intoleransi atau Perebutan Lapak? — 78
  • Tuhan Perlu Dibela — 84
  • Toleransi terhadap Intoleransi — 89
  • Mengapa Kita Gemar Mengambinghitamkan Pendatang? — 96
  • Akhir Bahagia Politik ldentitas — 105
  • Kesenjangan Berbuah Intoleransi? — 110
  • Bukan Kekalahan PluralismE — 117
  • Dari Ketidakadilan ke Keaslian — 122
    • Bagian 3 Hantu-Hantu Sejarah yang Tak Pernah Mati
  • Sejarah dan Kebencian — 130
  • Hantu-Hantu di Sisi Kekuasaan — 130
  • Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang — 142
  • Tan Malaka, Hantu Republik yang Tak Bisa Digebuk — 148
  • Istirahatlah Hantu-Hantu — 154
  • Menjadi Indonesia Pasca-1965  —  160
  • Kesia-siaan Politik Arsip 1965 — 166
  • Terima Kasih, TereLiye — 172
    • Bagian 4 Kuasa Membutuhkan Massa
  • Garang di Jalanan, Gagal di Kehidupan — 178
  • Patah Bangsa Tumbuh Agama — 186
  • Sukarno adalah Kita — 192
  • ParaOrator dan Musuh-musuhnya — 198
  • Kalau Sudah Orasi, Lupa Berhenti — 204
    • Bagian 5 Di Suatu Sudut Indonesia
  • Iba Berujung Petaka — 210
  • Bhinneka Tunggal Drama — 216
  • Konflik Agama dan Mati Jombl0 — 221
  • Bambang atau Pengantar Singkat Memahami Gentrifikasi — 228
  • Demokrasi Ribuan EpoS — 234
  • Horor Itu Bernama Jakarta — 239
    • Bagian 6 Wacana, Menindas dan Menista
  • Yang Senyap Sekaligus Berdusta — 246
  • Mimpi Keadilan untuk Wanita yang Dihancurkan 50 Tahun Lalu — 253
  • Lebih Besar dari Seks Belaka — 259
  • Memperdagingkan Perempua — 265
  • Kemanusiaan Memang Membosankan — 270
  • Menuding Para Penyendiri — 276
    • Bagian 7 Menyusu Kebencian, Memamah Kekerasan
  • Pemuda dan Imajinasi Perjuangan — 284
  • Bukan Merdeka 17 Agustus? — 291
  • Memisahkan Kemerdekaan dari Kekerasan — 298
  • Membaca Pangkal Ditakuti — 303
  • Algoritme Kebencian — 309
  • Hoaks dan Kotak Pandora Kebencian — 315
  • Imajinasi Kepribumian, Kekerasan Kolosal — 320
  • Hidup yang Haus Konspirasi — 326
  • Hoegeng yang Dinistakan Revolusi — 332
  • Peradaban tanpa Perang, Mungkinkah? — 337
  • Tentang Penulis — 344
  • Indeks — 345

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Organisasi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *