Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari – Tidak seperti judul buku-buku dari karya Ahmad Tohari, buku ini memang seperti judulnya yaitu mengisahkan tentang karakter Ronggeng yang bertempat di Dukuh Paruk. Kalau kebanyakan buku tulisan Ahmad Tohari menggunakan judul tersirat sedangkan yang ini tidak. Sosok utama dari cerita yaitu Rasus pemuda lahir di Dukuh Paruk lupa dengan Ayah dan Ibunya terobsesi dengan sosok Ibunya.

Tapi memang kebanyakan di Dukuh Paruk generasi Rasus tidak memiliki orang tua, kata Neneknya Rasus dulu para orang tua di Dukuh Paruk terkena pageblug setelah dianalisa sendiri dari berbagai cerita orang-orang tua di Dukuh Paruk oleh Rasus penyebabnya ialah keracunan makan tempe bongkrek. Seperti ciri khas dari tulisan Ahmad Tohari akan memainkan dua karakter tokoh lawan jenis sebagai medium alur cerita. Karakter lainya ialah bernama Srintil, Srintil ialah sosok Ronggeng dalam cerita.

Pertemuan Srintil dengan Rasus ialah ketika Rasus dan kawan-kawannya melihat Srintil berdendang. Rasus dan kawan-kawanya menawarkan bunyi gendang, calung dan gong tiup. Kedekatan Rasus dengan Srintil berlanjut ketika Srintil akan melakukan pengesahan sebagai seorang Ronggeng.

Rasus melihat keris Srintil pada saat melakukan tarian dan merasa tidak cocok, karena ukuran keris tersebut terlalu besar untuk digunakan oleh Srintil yang mungil. Akhirnya Rasus ingat dengan Keris milik almarhum bapaknya yang berukuran kecil, tapi Rasus menemuhi masalah dengan persetujuan neneknya. Setelah sejenak berpikir akhirnya Rasus menggunakan keyakinan kebanyakan orang Dukuh Paruk yaitu wangsit.

Rasus bercerita pada neneknya mendapatkan wangsit dari bapaknya untuk menyerahkan keris bapaknya kepada Srintil yang pada saat itu memang sudah dikenal seluruh warga Dukuh Paruk, jika tidak diserahkan maka keluarga Rasus akan mendapatkan malapetaka, pastinya itu karangan. Neneknya percaya dan menyerahkan keris itu untuk diberikan kepada Srintil.

Singkat cerita Rasus muak dengan pekerjaan Srintil sebagai Ronggeng walaupun keperawanan Srintil sudah diambil pada saat tradisi bukak-klambu,toh Srintil melayani lelaki lainya, memang itu pekerjaanya sebagai penghibur untuk para lelaki di desa atau di sebelah desa. Rasus keluar dari desa dan berkerja di pusat pasar, berjalan dua tahun Rasus sadar bahwa moral warga Dukuh Paruk berlainan dengan warga pada umumnya.

Rasus mengetahui itu ketika dia mencubit pipi pelanggannya, jika di Dukuh Paruk itu hal yang biasa tidak sampai membuat keributan beda dengan dipasar, reaksi perempuan yang dicubit membuat Rasus kebingungan. Rasus juga menganalogikan seperti ini, jika ada istri berselingkuh dengan suami tetangga di Dukuh Paruk, maka cukup suami dari istri berselingkuh masuk rumah tetangga si selingkuhan dan berhubungan badan dengan istrinya maka urusan akan selesai.

Cerita berlanjut panjang ketika Rasus bertemu dengan Sersan Slamet, pada waktu itu sering terjadi perampokan rumah sehingga akhirnya tentara turun untuk menangkap pelaku. Diakhir cerita komplotan perampok akan menggeruduk Dukuh Paruk dan kebetulan Rasus ditugaskan untuk mengawasi dari luar Dukuh, pertemuan Rasus dengan Srintil kembalik lagi.

*Kover buku: Wikipedia

Nama saya Firin, tertarik dengan penulis sastra. Pandangan saya tentang kehidupan ialah kebutuhan primer lebih penting daripada kebutuhan sekunder. Pernah kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *