Sang Priyayi Umar Kayam – Salah satu ciri khas novel Sang Priyayi karangan Umar Kayam ini adalah sangat ‘njawani’ sekali. Sang Priyayi menceritakan sebuah keluarga priyayi dari awal menikah sampai memiliki cicit banyak dan diakhiri dengan sebuah kematian.

Dan salah satu kelebihan dari gaya penulisan Umar Kayam dalam novel ini adalah ia sangat detil dalam menggambarkan sifat karakter setiap tokoh dalam cerita. Kemudian, ketika pembaca menyebutkan si A maka secara tidak langsung akan tahu bagaimana watak si A itu di dalam cerita.

Karakter tersebut bisa kuat dikarenakan sudut pandang cerita yang banyak. Sudut pandang tersebut berasal dari seluruh keluarga Sastrodiharjo. Tetapi secara tidak tersirat tetap tokoh utama dalam cerita yaitu Latip atau Wage.

Latar cerita menarik, dari zaman Belanda, lalu awal masuk Jepang, dan setelah itu proklamasi, pemberontakan PKI pertama dan pemberontakan PKI kedua. Semua terangkum dalam alur maju.

Novel ini secara tidak langsung juga menjelaskan tentang perkembangan pendidikan dari zaman Belanda berpindah ke Jepang, lalu berpindah ke Indonesia.

Pengaruh tersebut dirasakan oleh keluarga Sastrodiharjo. Perpindahan sistem pendidikan itu tampak sekali dalam tokoh Latip.

Pertama-tama dari pembelajaran Bahasa Belanda. Lalu ketika Jepang datang, pelajaran bahasa Belanda dihapus dan diganti dengan pelajaran bahasa Jepang. Lalu berpindah lagi, bahasa Jepang dihapus dan diganti Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional.

Tak luput juga, dalam novel ini digambarkan bagaimana kondisi sosial di zaman belanda, di mana seorang priyayi merupakan salah satu pekerjaan yang punya prestis tinggi dan menjadi idaman masyarakat pribumi.

Peralihan budaya di dalam novel nampak jelas ketika memasuki zaman kemerdekaan, bagaimana penggunaan unggah-ungguh basa yang berkurang di kalangan remaja.

Berbeda dengan pada saat zaman era kolonial, penggunaan unggah-ungguh basa menjadi sebuah pakem yang menunjukkan sosok priyayi. Namun bukan hanya unggah-ungguh basa saja, akan tetapi budaya Jawa seperti tembang dan ritual-ritual sosial Jawa yang melekat di masyarakat juga diperhatikan. Ditambah pula, pendidikan kolonial Belanda mendukung hal itu.

Seperti mata pelajaran kesenian, bahasa Jawa, diajarkan sejak SD. Dan itu wajib sifatnya karena dianggap sebagai syarat kelulusan.

Bukan hanya itu, di dalam novel ini juga dijelaskan secara tidak langsung tentang nasab sebab akibat, seperti tokoh Latip yang menjadi anak yatim kehilangan ayahnya, ternyata terjadi di sepupu perempuan cucu dari Sastrodiharjo yang mana ditinggal laki-lakinya dalam kondisi hamil.

Akan tetapi dikarenakan keuletan dari Latip untuk menemukan siap laki-laki tersebut akhirnya laki-laki tersebut mau menikah dengan sepupu Latip. Bisa dikatakan Priyayi dalam cerita ini bukan hanya PNS seperti zaman sekarang.

Nama saya Firin, tertarik dengan penulis sastra. Pandangan saya tentang kehidupan ialah kebutuhan primer lebih penting daripada kebutuhan sekunder. Pernah kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *