Sastra Jendra Hayuningrat merupakan buku yang ditulis oleh Agus Sunyoto. Buku ini termasuk dalam kategori Agama dan Spiritual yang diterbitkan LKiS pada tahun 2012.

“kalau engkau mau mencari Allah, belajarlah dari iblis!”

Begitulah kalimat pertama dalam novel ini. Begitu memukau dan membuat otak berfikir keras. Bagaimana mungkin untuk mendapatkan kebaikan, kita harus belajar dari Iblis, yang notabene adalah sosok terjahat ciptaan Tuhan.

Agus Sunyoto selanjunya menuliskan:

Bagai kilatan cahaya petir, bisikan misterius itu membentur gugusan telinga batin saya tanpa dapat saya ketahui maksudnya. Kilatan itu muncul begitu saja dengan frekuensi yang tak menentu fluktuasinya. Bagi saya, kelebatan misterius yang membentur-bentur bagai kilatan cahaya petir itu memang bukan hal baru. Namun demikian, baru sekali ini saya mendapati makna yang demikian aneh. Bagaimana mungkin saya harus belajar dari iblis sesat yang terkutuk untuk bisa menemukan Kebenaran Ilahiah?. Setelah merenung-renung dan memikir-mikir secara lebih dalam, akhirnya saya berkesimpulan bahwa semua itu adalah bisikan dari setan terkutuk yang akan menyeret saya ke jurang kesesatan yang mengerikan. (hlm.1)

Ini merupakan sebuah novel dengan sudut pandang orang pertama. Agus Sunyoto memposisikan diri sebagai aktor atau tokoh dalam novel. Uniknya, ia menamakan dirinya Sudrun Edan.

Agus Sunyoto menjelaskan:

Keanehan demi keanehan yang selama ini saya alami memang cukup absurd untuk orang yang berpikiran normal, sehingga tidaklah salah apabila orang-orang di sekitar saya memanggil saya dengan sebutan Sudrun terutama ketika saya mulai sering menulis di media massa cetak dengan menggunakan identitas “Ki Sudrun”. Kalau saja orang-orang mengetahui bahwa diam-diam saya telah mendapat bisikan misterius agar saya berguru kepada iblis, niscaya saya akan digelari sebagai “Sudrun Edan alias Sudrun Gendeng”, yang berarti gila kuadrat!

Terus terang, ketika orang-orang menyebut saya dengan sebutan Sudrun saya tidak merasakan sesuatu yang janggal dari gelar tersebut. Dan seingat saya, sebutan Sudrun itu sudah disodokkan sedemikian rupa oleh orang-orang ke dalam nama Saya sejak saya sekolah SD. Bahkan pada gilirannya pun sebutan Sudrun itu dicoretkan begitu saja di rapor sekolah saya, sehingga di rapor tersebut tertulis nama: Saya Sudrun. (hlm. 1-2)

Daftar Isi

  • Pengantar Redaksi — v
  • Kilasan-Kilasan — ix
  • Daftar Isi — xi
  • Satu — 1
  • Dua — 29
  • Tiga — 53
  • Empat — 79
  • Lima — 115
  • Enam — 143
  • Tujuh — 173
  • Delapan — 209
  • Sembilan — 243
  • Sepuluh — 267
  • Sebelas — 313
  • Duabelas — 335
  • Tigabelas — 379
  • Empatbelas — 419
  • Limabelas —  457
  • Enambelas —  489
  • Tujuhbelas — 519
  • Kepustakaan — 549
  • Tentang Penulis — 551

Demikian informasi sedikit tentang Buku Sastra Jendra Hayuningrat. Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Redaksi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *