Sawerigading Datang Dari Laut merupakan buku yang ditulis oleh Faisal Oddang. Buku ini termasuk dalam kategori  Cerpen yang diterbitkan Diva Press pada tahun 2019.

________

Pertama kali saya mengenal nama Faisal oddang, adalah tahun 2014 ketika ia dimendapat penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2014 dan pada tahun yang sama digelari oleh Pemerintahan Thailand sebagai Asean Young Writers Award 2014, tentu dengan dua judul cerpen bereda. Sebuah prestasi yang mencengangkan diumur yang begitu muda pada tahun itu.

Tulisan kali ini saya tidak bermaksud untuk me-review buku karya Oddang. Ini hanya penilain yang sangat subjektif karena saya-red; Penikmat bukan Penilai-sebuah karya sastra.

Ada dua hal dalam buku ini (Sawerigading Datang Dari Laut) yang menurut saya layak untuk dibaca. Yang pertama adalah Cerpen “Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon” yang mengantarkan nama Oddang masuk sebagai kalangan sastrawan muda yang diberikan Kompas tahun 2014 dan Cerpen “Jangan Tanyakan Tentang Mereka yang Memotong Lidahku”. Sebuah cerpen yang menceritakan dua insan dengan penuh rasa amarah, dendam, haru dan pasrah. Campur aduk saat mereka berdua dipertemukan—dalam kondisi ada yang hilang.

“Bagaimana cara mereka memotong lidahmu?”

Bagaimana caranya kau tahu aku di sini? Setelah berpuluh tahun menghilang-kau muncul dengan pertanyaan yang memaksa air mataku jatuh lagi; memaksaku mengenang tahun enam-lima yang memerihkan itu; aku dan kau keluar masuk hutan demi bertahan hidup. Demi pengabdian kepada Dewata sebagai bissu yang suci. Sial, kita diburu karena dianggap mengkhianati Tuhan. Bukankah Dewata juga Tuhan? Lantas, adakah yang lebih setia dari bissu? Lebih hina mana, berpaling dari Tuhan atau dari negara? Kau tentu tak mendengarku, Upe. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bicara, dan memang orang yang tak punya lidah tidak bisa bicara, hanya bisa hidup, dan menangis, kendati tidak sekali pun menyesali masa lalu. (hlm 35)

Saat membaca paragraf tersebut, saya pikir ini cerita nyata bukan fiksi, karena memang hampir persis seperti yang terjadi di Negara kita. Saat dimana, atas segala yang berdiri atas agama sering melukai kemanusiaan.

________

Sering kali, tema cerpen Faisal Oddang terdiri sejarah, adat dan budaya yang kental. Fiksi yang sesaat menarik kita masuk dalam cerita secara langsung.

Daftar Isi

  • KOMENTAR — 5
  • BEBERAPA CERITA, BEBERAPA BUKU, BEBERAPA ORANG — 9
  • MENGAPA MEREKA BERDOA KEPADA POHON? — 15
  • ORANG-ORANG DARI SELATAN HARUS MATI MALAM ITU — 25
  • JANGAN TANYAKAN TENTANG MEREKA YANG MEMOTONG LIDAHKU  — 35
  • DI TUBUH TARRA, DALAM RAHIM POHON  — 47
  • SAWERIGADING DATANG DARI LAUT  — 59
  • YANG TERBARING DI RUMAH ARUNG, PAGI ITU — 73
  • PELURU SIAPA YANG KAMI TEMUKAN INI? — 83
  • KAPOTJES DAN BATU YANG TERAPUNG  — 95
  • PEREMPUAN RANTAU — 107
  • SIAPA SURUH SEKOLAH DI HARI MINGGU? — 117
  • SEBELUM DAN SETELAH PERANG, SEBELUM DAN SETELAH KAU PERGI  — 129
  • DI ATAS GELADAK — 141
  • DI SANA, LIMA PULUH TAHUN YANG LALU — 153
  • SEBELUM BERANGKAT KE SURGA — 165
  • GELANG TALI KUTANG  — 179
  • RIWAYAT PENERBITAN  — 191
  • TENTANG PENULIS — 192

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Redaksi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Pengangguran suka nongkrong di warung kopi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *