Slilit Sang Kiai merupakan buku yang ditulis Emha Ainun Nadjieb. Buku ini termasuk dalam kategori Kumpulan Kolom yang diterbitkan Mizan pada tahun 2006.

Kutipan

Nahdlatul Bank — Tidak ada tokoh yang paling susah dipahami melebihi GusDur. Dan tak ada orang yang paling susah memahami GusDur melebihi umat si Gus Dur sendiri. Kemudian amma ba’du,tidak ada makhluk yang paling cuek untuk dipahami ataupuntak dipahami, the heavy weight champion asli Jombang yangberkacamata minus sekian belas.

Omongnya aneh-aneh. Sepak terjangnya membuat orang di sekitarnya atau jutaan lain yang di pelosok menjadi blingsatan. “Ketua Ketoprak” ini bahkan masih belum di-wawuh alias masih  di –jothak atawa masih dalam posisi mufarraqah dengan abah  segala abah, yaitu Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Memang, domisili Gus yang mblunat ini di fokus panggung pentas sejarah umat terbesar di negeri ini. Maka, setiap tetes keringatnya, termasuk setiap sapuan bau ketiaknya, menelusup ke telinga setiap umat: umat yang langganan untuk diajak memperjuangkan segala sesuatu di segala bidang yang sifatnya nasional,  serta langganan pula untuk dipanggang sesudah sesuatu itu tercapai dan kemapanan terkukuhkan……  — Sumber; Buku Slilit Sang Kiai, halaman 121.

Daftar Isi

  • Kata Pengantar — 9
  • BAGIAN PERTAMA: ISLAM ITU ISLAM — 15
    • Slilit sang Kiai — 17
    • Berniaga dengan dan dalam Allah — 21
    • Aku Sakit, Kau Tak Menjengukku — 26
    • Koin Sukses — 31
    • Kami Takjub, Ya Akbar — 34
    • Islam Itu Islam — 38
    • Empat Kapasitas — 43
    • Watak Dialog — 47
    • Makan-Minum Dak Tentu — 51
    • Maha Satpam — 56
    • Angket — 63
    • Gontor, Shaolin, dan Trimurti — 68
    • Mencintai dan Membenci — 722
    • Melodi Perjalanan — 76
    • Perjanjian di Telaga — 80
  • BAGIAN KEDUA: MATAHARIKU GERHANA — 85
    • Wawancara — 87
    • Mas Pinter yang Genit — 94
    • Tamu Entah Siapa — 97
    • Hujan Menangis — 100
    • Sang Garuda, Bebek, Ayam Horn — 104
    • Belajar Ngomong Tidak — 107
    • Pasal Ketela — 111
    • Matahari Memata-matai Hari — 115
    • Beras PB — 118
    • Nahdlatul Bank — 121
    • Bandot — 125
    • Tetangga — 129
    • Glangsing, Rileks, dan Ringan — 134
    • Orang yang Tak Pernah Lohor — 137
    • Paha Itu, Cahaya Itu — 141
    • Kupu-Kupu Sekolah Dasar  — 145
    • Allah Maha Menepati Janji — 148
    • Goyang Kiai Sekati — 153
    • Kakang Kawah — 158
    • Pendekar: Siapakah Dia- 162
    • 17.000 Kartu Nama — 166
    • Matahariku Gerhana — 169
    • Ketonggeng — 173
    • Ibu-Ibu dari Surga — 177
    • Ban Bin Bun — 180
    • Wanita-Wanita yang Tak Kita Bayangkan — 184
    • Kalengan Cinta yang Bocor — 189
    • Bu Tono dan Pak Tini — 194
    • Dilarang Menjemur Pakaian Dalam — 199
    • Subjektivisme Cihideung — 204
    • Si Pipit Bajunya Hitam —  209
    • Mahasiswa Baru — 214
    • Keroncong Sunyi Anak Buangan — 222
    • Pesantren di Ketiak Berlin — 225
    • Pingpong Kedungombo — 229
    • Demokrasi Kotak-Kotak — 233
  • BAGIAN KETIGA: BUMI TUHAN — 237
    • Masyarakat Tumpeng Raya — 239
    • Sadisme — 243
    • Daripada Kromo Inggil  — 247
    • Sastra Dewa, Sastra Macan, Sastra Tank — 250
    • Humanisme Tropis: Realisme Senen Kemis — 255
    • Ustad Umbu — 259
    • Sensus Penduduk Kerajaan Sulaiman —  263
    • Dahil Sayo Hanggang Mamatay —  267
    • Si Pincang, si Penangis — 270
    • Belajar Lahir — 274
    • Di Vilbel, di Ladang-Ladang — 278
    • Nyewa Langit — 283
    • Pagar Surga Neraka-287
    • Dicari: Manusia  — 291
    • Yang Berteriak Tinggal Serak  — 295
    • Air Liur — 299
    • Bumi Tuhan —  303
    • Etnotalentologi — 307

Info buku ini dibuat khusus oleh redaksi dalam rangka untuk mempromosikan buku yang kami jual di Gerai Kataloka. Gerai Kataloka merupakan bagian dari Organisasi Kataloka yang menaungi jual-beli buku orisinal. Oleh karena itu, jika Anda tertarik dengan buku (judul), sudi kiranya mampir di gerai kami.

Admin Kataloka

Admin situs Kataloka.org.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *