Bekisar Merah: Makelar dan Dagangannya – Bekisar Merah merupakan salah satu mahakarya Ahmad Tohari. Di awal cerita, Bekisar Merah menceritakan sosok Lasi, selaku tokoh utama dalam novel. Lalu di pertengahan, cerita berpindah kepada sosok Kanjat.

Lasi merupakan turunan campuran dari bapak seorang Jepang dan Ibu. Ia tinggal di Karangsoga. Sedihnya, bapak Lasi pergi ketika Lasi 5 bulan dalam kandungan, sehingga Lasi lahir tanpa seorang bapak. Sedangkan Kanjat adalah anak dari pengepul gula aren di Karangsoga.

Bisa dikatakan, judul ‘bekisar merah’ adalah simbol dari sosok Lasi. Ia merupak campuran Jepang-Pribumi, seperti halnya bekisar merah yang juga merupakan campuran dari ayam hutan dengan ayam lokal.

Sementara, tokoh Kanjat merupakan seorang akademisi. Ini terlihat pada akhir cerita, di mana dirinya menghadapi sebuah dilema. Perjalanan Kanjat menjadi seorang mahasiswa dan akademisi murni berkat dari keringat para penyadap nira yang dibeli murah oleh bapaknya. Setelah menjadi mahasiswa, ia melihat banyak kelemahan dan kekurangan produksi penyadap nira. Karena itu, Kanjat ingin merubah pola produksi itu menjadi pembuatan gula aren agar bisa efisien dan mendapatkan hasil yang maksimal.

Konflik muncul ketika Lasi merasa patah hati. Ia mengetahui mengetahui suaminya, Darsa, telah berhubungan badan dengan orang lain. Kekecewaan mendalam hadir dalam diri Lasi. Ditambah, tatapan mata orang-orang yang membuatnya seakan ditelanjangi, ia memutuskan pergi dari Karangsoga.

Perjalanan minggat Lasi dari desa tidaklah mudah. Juga, bagaimana seorang perempuan cantik, sendiri, tidak pernah ada pengalaman dengan gelap gulita kehidupan kota, sebuah Jakarta?

Di sini, konflik kembali muncul. Lasi imbit ke Jakarta dengan menumpang truk pembawa gula aren menuju Jakarta. Cerita menjadi lebih dilematis ketika Lasi secara kebetulan makan di warung Bu Koneng. Di satu sisi, Bu Koneng terlihat bagai bidadari penyelamat sang bekisar merah di belantara Jakarta; di sisi lain, Bu Koneng adalah makelar segala-benda.

Kecantikan Lasi yang berdarah campuran Jepang-pribumi juga merupakan segala-benda. Bu Koneng tertarik. Apalagi, jika melihat alur cerita, bisa dikatakan bahwa menemukan perempuan berdarah campuran adalah seperti menemukan emas di tumpukan sampah.

Sebagai makelar, yang juga merupakan perpanjangan dari tangan kapitalis, Bu Koneng langsung menawarkan segala-benda pada orang lain. Bertemulah Lasi dengan Bu Lanting. Di sini mulai terlihat, bahwa dalam dunia makelar pun ada kelasnya – meskipun tampaknya tidak ada pertentangan kelas.

Bu Koneng adalah makelar kelas bawah; Bu Lanting adalah makelar kelas atas. Sementara Lasi, emas di tumpukan sampah, kelasnya di atas.

Sebagai makelar kelas atas, Bu Lanting sudah punya konsumen yang menunggunya, Handarbeni salah satunya.

Handarbeni merupakan perwujudan dari sugar daddy, seorang pejantan yang menawarkan dukungan finansial-materiil kepada betina yang lebih muda. Handarbeni juga bercita-cita ingin memiliki istri berdarah campuran seperti bosnya. Saya berpendapat, Handarbeni terobsesi dengan Sukarno yang juga mempunyai salah satu isti berdarah campuran Jepang-pribumi, yaitu Ratna Sari Dewi atau nama jepangnya Naoko Nemoto.

Cita-cita Handarbeni terwujud, ketika Bu Lanting menunjukkan Lasi dengan seragam Kimono. Tanpa ba-bi-bu, sugar daddy mendapatkan apa yang dimau. Lasi menikah dengan Handarbeni.

Pernikahan dengan Handarbeni, membuat Lasi kembali menghadapi sebuah dilema. Di satu sisi, Lasi secara finansial-materiil terpenuhi – mulai dari rumah mewah, mobil mewah, dan hidup mewah; di sisi lain, kebutuhan biologis-imateriil Lasi kurang terpenuhi. Dalam seminggu, Handarbeni hanya bisa menemani lasi tiga hari. Dan juga, Lasi kecewa ketika berada di atas ranjang, gampang loyo.

Di akhir cerita, Lasi meminta izin kepada Handerbeni untuk pulang menjenguk ibunya di Karangsoga. Selain karena kekecewaan pada Handarbeni, Lasi juga ingin bertemu Kanjat. Kanjat sendiri masih berusaha pola produksi para penyadap nira di Karangsoga. Dan keduanya pun bertemu.

Nama saya Firin, tertarik dengan penulis sastra. Pandangan saya tentang kehidupan ialah kebutuhan primer lebih penting daripada kebutuhan sekunder. Pernah kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *